Momentum Ramadan, Penyuluh KUA Medan Sunggal Ajak Jamaah Syukuri Setiap Nikmat

Medan (Humas) Pada hari pertama puasa Ramadan, Penyuluh agama Islam KUA Medan Sunggal, Drs. H. Fuji, MA, memberikan tausiah berbuka puasa di Masjid Al-Mushabbihin, Komplek Tasbih, Medan.Kamis (19/2/2026). Jamaah yang hadir dalam acara tersebut berjumlah sekitar 800 orang, yang mayoritas merupakan warga Komplek Tasbih dan sekitarnya. Tema yang diangkat dalam tausiah ini adalah “Makna Bersyukur terhadap Setiap Suapan,” yang mengajak jamaah untuk lebih mendalami pentingnya bersyukur atas segala nikmat, termasuk makanan dan minuman yang kita konsumsi selama bulan Ramadan. Makna Bersyukur atas Makanan dan Minuman

Fuji membuka ceramah dengan mengingatkan jamaah tentang pentingnya bersyukur atas makanan dan minuman yang Allah berikan. Menurutnya, setiap suapan yang kita terima—baik itu nasi, sayuran, atau minuman—merupakan berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanan dan minuman ini bukan hanya sebagai kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam setiap suapan, terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya yang patut disyukuri. Oleh karena itu, setiap kali kita makan atau minum, kita harus menyadari bahwa itu adalah anugerah dan harus diiringi dengan rasa syukur.

Menghargai yang Tersisa dan Terbuang
Tausiah juga menekankan pentingnya menghargai makanan yang tersisa atau bahkan yang terbuang. Fuji mencontohkan, bisa jadi nasi yang kita buang atau makanan yang tersisa, jika tidak dikelola dengan baik, menjadi suatu hal yang tidak diridhoi Allah.

Tindakan membuang makanan tanpa merasa bersalah, menurut beliau, dapat menjadi salah satu bentuk kekufuran terhadap nikmat yang telah diberikan. Oleh karena itu, ia mengajak jamaah untuk senantiasa menjaga makanan dengan bijaksana, agar tidak ada yang terbuang sia-sia.
Konsekuensi dari Bersyukur dan Kufur
Dalam bagian ini, Fuji mengutip ayat Al-Qur’an yang mengingatkan tentang pentingnya bersyukur. “Barang siapa yang bersyukur terhadap nikmat Allah, maka Allah akan menambah nikmat-Nya,” ujar Fuji

Beliau, mengutip Surah Ibrahim ayat 7. Maka dari itu, ia mengajak jamaah untuk selalu mengingat bahwa rezeki yang diterima bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, melainkan merupakan ujian dan anugerah dari Allah. Jika kita bersyukur dengan cara menghargai setiap nikmat yang diberikan, maka Allah akan menambah rezeki dan berkah-Nya.
Menciptakan Keberkahan dengan Syukur

Tausiah ditutup dengan ajakan untuk mengamalkan sikap syukur dalam kehidupan sehari-hari. Fuji menegaskan bahwa syukur bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga harus tercermin dalam tindakan. Memiliki rasa syukur terhadap makanan, minuman, dan segala nikmat lainnya adalah kunci untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup. Ia juga mengingatkan bahwa berkah tidak hanya berupa harta benda, tetapi juga berupa kesehatan, kedamaian, dan kebahagiaan yang jauh lebih bernilai daripada kekayaan dunia.

Tausiah berbuka puasa ini mengingatkan kita untuk menggali makna syukur dalam setiap aspek kehidupan, khususnya dalam hal yang sering dianggap sepele seperti makanan dan minuman. Syukur atas nikmat Allah bukan hanya dilakukan dengan lisan, tetapi juga dengan cara memperlakukan setiap rezeki dengan penuh penghargaan dan bijaksana. Dalam bulan Ramadan ini, mari kita jadikan setiap suapan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan.(Paidi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *