Medan (Humas) Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan menyelenggarakan siaran rohani di Radio Maria Medan yang berlokasi di Catholic Center Christosophia, Kamis (12/03/2026). Kegiatan ini menghadirkan Ricardo Simamora, S.Ag., sebagai host, serta dua narasumber, yaitu Demaran Sigiro, S.Fil., dan Hekdi Jojada Sinaga, S.Fil. Dialog tersebut mengangkat tema Masa Prapaskah sebagai perjalanan rohani menuju pembaruan iman dan kehidupan.
Dalam pengantarnya, Ricardo Simamora menegaskan bahwa Prapaskah bukan sekadar periode liturgis dalam kalender Gereja, melainkan perjalanan rohani yang membentuk kehidupan umat. “Prapaskah bukan sekadar 40 hari dalam kalender liturgi, melainkan perjalanan hidup di mana Allah membebaskan, membentuk, dan membawa kita kepada pembaruan,” ujarnya.
Masa Prapaskah diawali dengan penerimaan abu di dahi sebagai simbol pertobatan dan kerendahan hati yang mengingatkan manusia akan kefanaannya. Demaran Sigiro menjelaskan bahwa tanda abu tersebut memiliki makna spiritual yang mendalam bagi kehidupan orang beriman. “Abu di dahi adalah pengingat bahwa tanpa Allah kita rapuh, namun oleh rahmat-Nya kita diperbarui melalui pertobatan hati yang jujur,” katanya. Ia juga menegaskan bahwa sesuai ajaran Gereja Katolik dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 1430), pertobatan sejati tidak hanya berupa tindakan lahiriah, tetapi terutama perubahan hati yang mendalam.
Selama 40 hari menjelang Paskah, umat diajak mengikuti teladan Yesus dengan menghidupi tiga pilar utama kehidupan rohani, yaitu doa yang lebih tekun, puasa yang melatih pengendalian diri, serta karya kasih kepada sesama. Dalam diskusi tersebut juga ditegaskan bahwa kelemahan manusiawi bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan, melainkan ruang di mana kekuatan Allah dapat dinyatakan. Hekdi Jojada Sinaga menambahkan bahwa kekuatan rohani sejati tampak dalam kesetiaan kepada Tuhan di tengah keterbatasan manusia. “Kekuatan rohani berarti tetap setia kepada Tuhan bahkan ketika kita merasa lemah, karena kemenangan sejati adalah kemenangan ketaatan,” ujarnya.
Sebagai penutup, para narasumber menegaskan bahwa Prapaskah bukanlah tujuan akhir, sebab salib selalu bermuara pada kebangkitan yang menegaskan bahwa kehidupan lebih kuat daripada kematian. Masa ini mempersiapkan hati umat untuk menyambut terang kebangkitan Kristus dengan penuh harapan dan sukacita. Dengan menghayati dinamika Prapaskah secara sungguh-sungguh, umat diharapkan mengalami pembaruan hidup yang nyata sebagaimana Allah terus berkarya dalam membebaskan dan menuntun manusia menuju keselamatan.

