Penyuluh Katolik Medan Fasilitasi Konsultasi Sinodal KAM Kelompok Devosan Santo Yosep

Medan (Humas) Sinergi Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Medan dengan Gereja Katolik Keuskupan Agung Medan semakin kuat dan nyata. Hal ini tampak dalam pelaksanaan konsultasi Sinode Diosesan VII di sejumlah paroki di Kota Medan. Dalam proses tersebut, para penyuluh agama Katolik terlibat sebagai Tim Sinodal paroki, baik sebagai fasilitator diskusi maupun notulis dalam fokus konsultasi umat.

Pada Rabu (11/3/2026), Penyuluh Agama Katolik Kota Medan Marulam Nainggolan menjadi fasilitator bagi kelompok kategorial Devosan Santo Yosep di Paroki Santa Maria Ratu Rosari Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan. Belasan anggota devosan hadir dan memberikan pandangan serta pengalaman iman mereka sebagai bagian dari partisipasi umat dalam perjalanan sinodal keuskupan.

Fokus konsultasi pada kesempatan ini mengangkat tema “Merayakan”, yang mengajak umat mendalami liturgi sebagai sumber dan puncak kehidupan beriman, sekaligus sarana membangun persekutuan umat serta menguatkan misi Gereja. Kegiatan berlangsung dalam suasana ibadat yang khidmat, disertai semangat persaudaraan dan kebersamaan di antara para peserta.

Sebagai bahan permenungan, Marulam mengutip bacaan dari Kisah Para Rasul 2:41–47 tentang kehidupan Gereja Perdana. Dalam teks tersebut digambarkan bagaimana umat pertama bertekun dalam pengajaran para rasul, setia berkumpul dalam doa dan pemecahan roti dari rumah ke rumah, serta hidup dalam semangat berbagi dengan sesama yang berkekurangan. “Kehidupan Gereja Perdana mengajarkan bahwa liturgi tidak hanya dirayakan, tetapi juga dihidupi dalam kebersamaan, kepedulian, dan sukacita yang tulus,” ujar Marulam saat memandu refleksi peserta.

Dalam sesi berbagi pengalaman terpimpin, para anggota devosan mengungkapkan bahwa mereka merasakan ketenangan dan sukacita setiap kali merayakan Ekaristi, baik di paroki maupun di stasi. Perayaan ibadah dinilai mampu memperkuat iman dan rasa kebersamaan di tengah umat. Selalu ada kelegaan rohani setiap kali mengikuti misa.

Namun demikian, beberapa peserta juga menyampaikan harapan agar tata pelaksanaan liturgi terus ditingkatkan, terutama dalam hal kesiapan petugas liturgi dan pembinaan bagi pelayan altar. Hal ini dinilai penting agar perayaan Ekaristi semakin tertata dengan baik dan mampu menyentuh hati umat.

Para peserta juga mengapresiasi berbagai langkah kepedulian Gereja terhadap bumi sebagai rumah bersama serta perhatian kepada kelompok rentan. Di paroki dan stasi, misalnya, sudah ada ajakan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan membatasi sampah dari bungkus makanan.“Kami juga melihat adanya kepedulian paroki kepada umat yang berkekurangan. Bantuan dan perhatian itu membuat kami merasa bahwa Gereja benar-benar hadir bagi semua orang,” ungkap salah seorang peserta dalam sesi berbagi.

Fokus konsultasi sinodal ini berlangsung dengan lancar dan penuh keakraban. Seluruh peserta merasa mendapatkan ruang yang baik untuk menyampaikan suara hati mereka sebagai umat, demi mendukung pembaruan dan pertobatan pastoral Gereja di Keuskupan Agung Medan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *