PAI KUA Medan Denai Gelar Bimluh Keagamaan di STM Silaturahim, Bahas Hakikat Shalat Khusyuk

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Denai kembali melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) Keagamaan di lingkungan STM Silaturahim, Jalan Bromo Gang Aman, Kelurahan Tegal Sari Mandala III, Kecamatan Medan Denai, Kamis (16/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di kediaman Bapak Ali Akbar Chaniago tersebut diikuti oleh anggota STM Silaturahim dengan penuh antusias sebagai bagian dari pembinaan keagamaan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan pemahaman keislaman masyarakat.

Acara diawali dengan pembukaan oleh Ketua STM Silaturahim, Bapak Rusdi, yang mengajak seluruh jamaah untuk terus menjaga semangat menghadiri majelis ilmu sebagai bekal dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Bapak Azwar Piliang yang menambah kekhidmatan suasana sebelum memasuki sesi tausiah.

Materi penyuluhan disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., dengan mengangkat tema “Hakikat Shalat Khusyuk dan Tata Caranya.” Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa shalat bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi merupakan sarana seorang hamba untuk berkomunikasi secara langsung dengan Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim dituntut menghadirkan hati, pikiran, dan seluruh jiwanya ketika melaksanakan shalat.

Menurutnya, secara bahasa khusyuk berarti tunduk, tenang, merendahkan diri, dan penuh penghormatan. Sementara secara istilah, khusyuk adalah hadirnya hati di hadapan Allah SWT sehingga seluruh anggota badan menjadi tenang dan hanya tertuju kepada-Nya.

Mengutip kitab Ihya’ Ulum ad-Din, Khoiruz Zaman menjelaskan bahwa hakikat khusyuk terletak pada kehadiran hati yang disertai pengagungan kepada Allah SWT, rasa takut kepada-Nya, harapan terhadap rahmat-Nya, serta rasa malu kepada Allah atas segala kekurangan yang dimiliki seorang hamba.

“Shalat yang khusyuk lahir dari hati yang benar-benar menyadari bahwa dirinya sedang berdiri di hadapan Allah SWT. Ketika hati hadir, maka lisan akan menghayati setiap bacaan dan anggota tubuh akan bergerak dengan penuh ketenangan serta penghambaan kepada-Nya,” jelas Khoiruz Zaman.

Ia juga mengingatkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Mu’minun ayat 1–2 yang menegaskan bahwa orang-orang yang beruntung adalah mereka yang khusyuk dalam shalatnya. Selain itu, Surah Al-Baqarah ayat 45 mengajarkan agar umat Islam menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Dalam penyampaiannya, ia menguraikan beberapa langkah untuk meraih kekhusyukan dalam shalat, di antaranya meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT, memperbanyak taubat dan istighfar, menyempurnakan wudu, memahami makna setiap bacaan shalat, menghadirkan hati seakan-akan berada di hadapan Allah SWT, menjaga tuma’ninah pada setiap rukun, serta menjauhkan segala sesuatu yang dapat mengganggu konsentrasi ketika beribadah.

“Shalat yang khusyuk akan melahirkan pribadi yang lebih sabar, rendah hati, dan mampu menjaga diri dari perbuatan yang dilarang Allah SWT. Karena itu, marilah kita terus berusaha memperbaiki kualitas shalat, bukan hanya dari sisi gerakan, tetapi juga dari kehadiran hati dan keikhlasan dalam beribadah,” pesannya.

Ia menambahkan bahwa tanda-tanda orang yang khusyuk dapat terlihat dari ketenangan hati ketika shalat, penghayatan terhadap setiap bacaan, tidak banyak bergerak tanpa keperluan, merasakan kedekatan dengan Allah SWT, serta menjadikan shalat sebagai benteng yang mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 45.

Penyampaian materi berlangsung interaktif. Para jamaah tampak antusias mengikuti penjelasan dan aktif mengajukan berbagai pertanyaan mengenai cara meningkatkan kekhusyukan dalam shalat di tengah kesibukan dan berbagai gangguan kehidupan sehari-hari.

Salah seorang jamaah, Bapak Syamsul Anwar Koto, menyampaikan apresiasi atas materi yang disampaikan. Menurutnya, pembahasan mengenai hakikat shalat khusyuk menjadi pengingat penting agar umat Islam tidak sekadar melaksanakan shalat sebagai rutinitas, tetapi benar-benar menghadirkan hati dalam setiap ibadah.

“Materi yang disampaikan sangat menyentuh dan mudah dipahami. Kami diingatkan bahwa kualitas shalat sangat menentukan kualitas kehidupan seorang muslim. Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan karena sangat bermanfaat dalam menambah wawasan keislaman sekaligus mempererat ukhuwah di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaiful Akhyar. Melalui kegiatan ini, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai berharap jamaah STM Silaturahim semakin memahami hakikat shalat khusyuk serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga shalat benar-benar menjadi sarana pembinaan akhlak, penguatan keimanan, dan pembentuk pribadi muslim yang bertakwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *