Medan (Humas) — Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas terus memperkuat pembinaan akidah masyarakat melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan yang dilaksanakan secara rutin di berbagai majelis taklim. Upaya tersebut sejalan dengan arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar menghadirkan pelayanan serta bimbingan yang prima, edukatif, profesional, dan memberikan dampak nyata di tengah masyarakat. Penguatan akidah menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang memiliki pemahaman agama yang baik serta mampu menyikapi berbagai fenomena kehidupan berdasarkan ilmu dan tuntunan Islam.
Implementasi arahan tersebut diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) yang dilaksanakan pada Kamis (13/8/2026) di Majelis Taklim (MT) Taqwa, Kecamatan Medan Amplas. Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., menyampaikan materi akidah bertema “Menjaga Kemurnian Tauhid dari Khurafat, Tahayul, dan Mitos”. Materi tersebut mengajak jamaah memahami pentingnya menjaga kemurnian akidah dari berbagai keyakinan yang tidak memiliki dasar yang benar dalam ajaran Islam.
Dalam pemaparannya, Dr. Syarto menjelaskan bahwa khurafat, tahayul, dan mitos dapat berkembang di tengah masyarakat apabila tidak disikapi dengan ilmu dan pemahaman agama yang memadai. Berbagai kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun terkadang masih memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan atau memandang suatu peristiwa. Karena itu, jamaah diajak untuk lebih kritis dalam menyikapi berbagai informasi dan keyakinan serta tidak langsung mempercayai sesuatu hanya karena telah lama berkembang di lingkungan masyarakat.
Menurut Dr. Syarto, kemurnian tauhid menuntut seorang Muslim meyakini bahwa Allah Ta’ālā merupakan satu-satunya Zat yang memiliki kekuasaan mutlak atas manfaat dan mudarat. Seorang Muslim tidak boleh meyakini benda, tempat, hari, angka, atau fenomena tertentu mempunyai kekuatan gaib secara mandiri yang dapat menentukan keberuntungan maupun kesialan seseorang. “Jangan sampai mitos menjadi sumber ketakutan dan menentukan keputusan hidup. Seorang mukmin harus menjadikan tauhid sebagai fondasi, ilmu sebagai pedoman, ikhtiar sebagai jalan, dan tawakal sebagai sikap hati,” jelasnya.
Bimbingan tersebut juga menekankan pentingnya membedakan antara sebab yang dibenarkan secara syariat maupun berdasarkan pengalaman empiris dengan keyakinan terhadap mitos yang tidak memiliki dasar. Islam tetap mengajarkan umatnya untuk melakukan ikhtiar, berhati-hati, serta mengambil sebab dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Namun, setiap sebab tetap harus ditempatkan secara benar dan diyakini tidak memiliki kekuatan independen di luar kehendak Allah Ta’ālā.
Dr. Syarto menegaskan bahwa menjaga tauhid tidak cukup hanya dengan mengucapkan kalimat lā ilāha illallāh, tetapi juga harus tercermin dalam cara seorang Muslim memandang dan menghadapi kehidupan. Ketika menghadapi persoalan, seseorang hendaknya tidak mudah menghubungkan suatu kejadian dengan pertanda-pertanda mistis yang tidak memiliki dasar. Sebaliknya, setiap persoalan perlu dihadapi dengan ilmu, ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah Ta’ālā.
Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., mengatakan bahwa penguatan akidah perlu terus dilakukan agar masyarakat memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai pengaruh keyakinan yang berkembang di lingkungan sosial. “Penyuluhan agama harus mampu memberikan pemahaman yang benar sekaligus membekali masyarakat agar dapat membedakan antara ajaran agama, tradisi, dan kepercayaan yang tidak memiliki dasar yang kuat. Dengan demikian, masyarakat dapat menjalankan kehidupan beragama dengan lebih mantap dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai mitos,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan informasi yang semakin cepat membuat masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menyaring berbagai informasi dan keyakinan yang diterima. Para penyuluh agama memiliki peran penting dalam memberikan penjelasan yang mudah dipahami serta mengajak masyarakat kembali kepada prinsip-prinsip tauhid. “Kita ingin masyarakat semakin kritis, tetapi tetap santun dalam menyikapi berbagai persoalan. Ilmu harus menjadi dasar dalam memahami agama dan tauhid harus menjadi fondasi dalam menjalani kehidupan,” tambahnya.
Kegiatan di MT Taqwa dihadiri pengurus dan puluhan anggota majelis taklim yang mengikuti materi dengan penuh perhatian. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada jamaah untuk menyampaikan berbagai pertanyaan. Sejumlah pertanyaan berkaitan dengan khurafat, tahayul, mitos, serta fenomena kehidupan sehari-hari yang terkadang masih dikaitkan dengan pertanda baik maupun buruk menjadi bagian dari pembahasan.
Sesi diskusi tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan penyuluhan karena memberikan ruang kepada jamaah untuk memperoleh penjelasan secara langsung dan meluruskan berbagai pemahaman yang berkembang di tengah masyarakat. Melalui dialog yang interaktif, penyuluh dapat memberikan contoh-contoh yang lebih dekat dengan kehidupan jamaah sehingga materi akidah tidak berhenti pada aspek teori. Jamaah juga didorong untuk membiasakan diri memeriksa dasar suatu keyakinan sebelum menjadikannya sebagai pedoman dalam mengambil keputusan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama. Melalui bimbingan tersebut, KUA Kecamatan Medan Amplas kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat pemahaman akidah masyarakat dan membangun kehidupan keagamaan yang berlandaskan ilmu serta kemurnian tauhid. Pembinaan secara berkelanjutan diharapkan dapat membentuk masyarakat yang semakin kokoh dalam keyakinan, tidak mudah terpengaruh oleh khurafat, tahayul, dan mitos, serta mampu menghadapi kehidupan dengan ilmu, ikhtiar, doa, dan tawakal.

