Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan Sampaikan Empat Cara Meneladani Akhlak Rasulullah SAW

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kota Medan, H. Abdullah Hakim, menyampaikan bimbingan dan penyuluhan kepada jamaah Majelis Taklim (MT) Ar-Ridha dengan mengangkat tema “4 Cara Meneladani Akhlak Rasulullah SAW dalam Hidup”, Selasa (25/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan dalam memberikan pembinaan keagamaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui materi yang disampaikan, jamaah diajak memahami bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW perlu diwujudkan melalui keteladanan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam bimbingannya, H. Abdullah Hakim mengajak jamaah untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam membangun sikap dan perilaku. Menurutnya, keteladanan Rasulullah SAW tidak cukup hanya dipahami melalui kisah perjalanan hidup dan ajaran beliau, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW dapat diterapkan mulai dari lingkungan keluarga, kemudian diperluas dalam kehidupan bermasyarakat.

“Meneladani Rasulullah SAW bukan hanya dengan memperbanyak ucapan cinta kepada beliau, tetapi dengan menghadirkan akhlaknya dalam perilaku kita setiap hari. Kecintaan kepada Rasulullah SAW harus terlihat dari cara kita berbicara, bersikap dan memperlakukan orang lain,” pesan H. Abdullah Hakim.

Ia menyampaikan empat cara yang dapat dilakukan jamaah untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW. Pertama, membiasakan diri berkata jujur dan menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Kedua, melatih kesabaran serta membiasakan diri memaafkan kesalahan orang lain. Ketiga, menumbuhkan rasa kasih sayang dan kepedulian kepada sesama. Keempat, senantiasa bersikap rendah hati serta ikhlas dalam melakukan berbagai kebaikan.

“Empat hal ini dapat kita mulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, karena akhlak yang baik terbentuk dari perilaku yang terus kita biasakan. Ketika kejujuran, kesabaran, kepedulian, rendah hati dan keikhlasan menjadi kebiasaan, insya Allah nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW akan semakin nyata dalam kehidupan kita,” ujarnya.

H. Abdullah Hakim menjelaskan bahwa kejujuran dan sikap dapat dipercaya merupakan bagian penting dari keteladanan Rasulullah SAW. Sikap tersebut perlu dibangun dalam berbagai hubungan, baik dalam keluarga, pekerjaan maupun kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, menjadi pribadi yang jujur berarti menjaga ucapan dan tindakan agar selalu sesuai dengan kebenaran serta tidak mengkhianati kepercayaan yang diberikan orang lain.

Selain kejujuran, kesabaran dan sikap pemaaf juga menjadi akhlak yang penting untuk diterapkan dalam kehidupan. Berbagai perbedaan, persoalan dan dinamika hubungan sosial sering kali membutuhkan kesabaran agar tidak menimbulkan konflik yang lebih besar. Karena itu, jamaah diajak untuk belajar mengendalikan emosi, tidak mudah membalas kesalahan dengan keburukan dan memberikan ruang untuk saling memaafkan.

“Kalau kita benar-benar mencintai Rasulullah SAW, maka akhlak beliau harus terlihat dalam cara kita berbicara, bersikap dan memperlakukan orang lain. Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih mudah menyakiti, merendahkan atau mengabaikan orang lain,” ungkapnya.

Ia juga mengajak jamaah untuk memperkuat kepedulian dan kasih sayang kepada sesama. Menurutnya, seorang Muslim tidak hanya dituntut memiliki hubungan yang baik dengan Allah SWT, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana, seperti membantu orang yang membutuhkan, menjaga hubungan silaturahmi, menghormati tetangga serta tidak bersikap acuh terhadap persoalan sosial di lingkungan sekitar.

Kerendahan hati dan keikhlasan juga menjadi bagian yang tidak kalah penting dalam meneladani Rasulullah SAW. H. Abdullah Hakim mengingatkan agar setiap kebaikan dilakukan dengan niat yang tulus, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia. Kerendahan hati juga perlu dijaga agar seseorang tidak merasa lebih baik daripada orang lain hanya karena memiliki kelebihan tertentu.

“Akhlak yang baik harus dimulai dari diri sendiri, kemudian kita biasakan di dalam keluarga dan lingkungan masyarakat. Kalau setiap orang berusaha memperbaiki akhlaknya, maka akan lahir keluarga yang lebih harmonis dan masyarakat yang lebih damai serta saling menghargai,” tutur H. Abdullah Hakim.

Menurutnya, Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman keagamaan sekaligus mendorong masyarakat agar mampu mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata. Bimbingan kepada jamaah tidak hanya diarahkan pada peningkatan pengetahuan keagamaan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, materi yang disampaikan di majelis taklim dapat memberikan dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan bimbingan dan penyuluhan tersebut berlangsung dengan khidmat dan mendapat antusiasme dari jamaah MT Ar-Ridha. Para jamaah mengikuti materi dengan penuh perhatian dan diajak untuk melakukan refleksi terhadap akhlak masing-masing dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi jamaah untuk terus melakukan perbaikan diri dengan menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama.

“Semoga apa yang kita pelajari hari ini dapat kita amalkan, sehingga kecintaan kita kepada Rasulullah SAW benar-benar tercermin dalam kehidupan kita. Jangan berhenti pada pengetahuan, tetapi mari kita buktikan kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui akhlak yang baik dan manfaat yang kita berikan kepada sesama,” pungkas H. Abdullah Hakim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *