Medan (Humas) – Rehabilitasi dan pembinaan merupakan langkah penting dalam membantu korban penyalahgunaan NAPZA untuk memulihkan kondisi fisik, mental, spiritual, serta keterampilan agar dapat kembali hidup normal dan produktif di tengah masyarakat. Dalam proses tersebut, dukungan keluarga, masyarakat, pemerintah, dan pembinaan keagamaan sangat diperlukan untuk menguatkan mereka sekaligus menghilangkan stigma negatif terhadap korban NAPZA.
Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., dan Drs. H. Fuji, M.A., melaksanakan pendampingan kepada warga binaan korban NAPZA di Yayasan Kiki Alam Jaya, Jalan Seroja Raya, Kelurahan Tanjung Selamat, Kota Medan, Senin, 28 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di ruang terbuka tersebut secara khusus diikuti warga binaan yang beragama Islam. Kegiatan diawali dengan lantunan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang dipimpin Paidi dengan harapan seluruh rangkaian pembinaan mendapat ridha Allah SWT.
Dalam penyampaian materinya, Paidi membahas tentang pentingnya iman sebagai dasar kehidupan seorang Muslim. Menurutnya, iman tidak hanya diyakini dalam hati, tetapi juga diucapkan dengan lisan dan diwujudkan melalui amal perbuatan. “Iman itu ialah meyakini keberadaan Allah SWT sebagai Sang Khalik, kemudian diucapkan dengan lisan melalui dua kalimat syahadat. Setelah itu, iman harus diamalkan dengan menjalankan perintah Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Paidi.
Paidi menambahkan bahwa setiap amal kebaikan harus dilandasi keimanan dan niat karena Allah SWT. Ia memberikan gambaran bahwa berbagai peninggalan sejarah yang dapat memberikan manfaat atau hiburan bagi manusia tidak serta-merta menjadi amal ibadah bagi orang yang mengerjakannya apabila tidak dilandasi iman kepada Allah SWT. “Iman adalah kunci dasar ibadah. Kebaikan yang kita kerjakan apabila tidak didasari iman dan niat karena Allah SWT, maka tidak memiliki nilai ibadah di sisi Allah,” tambahnya.
Sementara itu, Fuji menyampaikan materi tentang pentingnya menghadirkan Allah SWT dalam hati atau menumbuhkan kesadaran bahwa Allah senantiasa melihat, mendengar, dan mengetahui setiap gerak-gerik serta isi hati manusia. “Kita harus senantiasa menghadirkan Allah dalam hati. Tanamkan kesadaran bahwa di mana pun kita berada, Allah selalu mengawasi kita,” ujar Fuji. Ia menjelaskan beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain menerapkan konsep ihsan, mempelajari Asmaul Husna, memperbanyak zikir dalam setiap aktivitas, serta menyempurnakan ibadah dan salat dengan penuh kekhusyukan.
Lebih lanjut, Fuji mengajak warga binaan untuk membiasakan mengingat Allah SWT tidak hanya setelah salat, tetapi dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Kalimat thayyibah seperti Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar dapat dibiasakan ketika bekerja, berjalan, duduk, maupun beristirahat. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat membantu membangun kesadaran spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Fuji, memohon agar para korban NAPZA diberikan kesabaran, ketabahan, kekuatan, dan kesembuhan dari ketergantungan.
Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi kepada para penyuluh agama Islam yang terus memberikan pelayanan dakwah secara berkesinambungan kepada masyarakat, termasuk warga binaan korban NAPZA di Yayasan Kiki Alam Jaya. “Kami sangat berterima kasih kepada penyuluh agama Islam KUA Medan Sunggal yang selalu eksis, tidak mengenal tempat, dan terus memberikan pelayanan dakwah kepada umat, khususnya kepada warga binaan korban NAPZA. Semoga dengan hadirnya penyuluh agama, mereka semakin bertambah ilmu dan keimanannya serta mendapatkan hidayah untuk kembali ke jalan Allah SWT,” ujar Agus Salim.
Pendampingan keagamaan bagi korban NAPZA menjadi bagian penting dalam proses rehabilitasi, karena tidak hanya memberikan penguatan spiritual, tetapi juga menumbuhkan harapan, kesabaran, dan kesadaran untuk memperbaiki diri. Melalui bimbingan yang berkelanjutan, warga binaan diharapkan semakin dekat kepada Allah SWT dan memiliki kekuatan untuk menjalani proses pemulihan serta kembali menjalani kehidupan yang lebih baik di tengah masyarakat.(Paidi).

