Medan (Humas) Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan kembali melaksanakan penyuluhan keagamaan melalui siaran Radio Maria Indonesia Medan dalam program Ruang Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Medan, Kamis (01/10/2026). Siaran yang berlangsung pukul 12.30–13.30 WIB ini mengangkat topik “Mengapa Doa Rosario Memiliki 50 Kali Salam Maria” dengan menghadirkan Ricardo Simamora sebagai host, serta Roni Antonius Sitanggang, Zetra Hail Saragih, dan Hekdi Jojada Sinaga sebagai narasumber. Turut hadir Marulam Nainggolan yang berperan mengarahkan jalannya kegiatan agar siaran berlangsung tertib dan lancar. Kegiatan berlangsung di studio Radio Maria Indonesia, Gedung Catholic Center Lantai 5, Jalan Mataram No. 21, Petisah Hulu, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan.
Dalam pembukaan siaran, Ricardo Simamora mengajak pendengar untuk memahami lebih dalam makna di balik pengulangan 50 kali Salam Maria dalam doa Rosario, khususnya dalam tradisi umat Katolik selama Bulan Rosario. Ia menegaskan bahwa Rosario bukan sekadar rangkaian doa yang diulang, melainkan sarana untuk merenungkan misteri kehidupan Yesus Kristus bersama Bunda Maria. “Melalui pembahasan ini, kita ingin mengajak umat memahami bahwa setiap Salam Maria memiliki makna iman dan menjadi jalan untuk semakin dekat dengan Kristus,” ungkap Ricardo.
Mengulas aspek historis, Roni Antonius Sitanggang menjelaskan bahwa tradisi Rosario memiliki kaitan dengan kebiasaan para biarawan dan biarawati pada Abad Pertengahan yang mendaraskan 150 Mazmur Daud dalam Ibadat Harian. Umat awam kemudian mengembangkan bentuk doa yang lebih sederhana melalui pendarasan Salam Maria. Menurut Roni, pengulangan 50 Salam Maria hendaknya membawa umat melampaui kebiasaan mengucapkan kata-kata menuju pengalaman doa yang lebih mendalam. “Setiap Salam Maria adalah langkah iman yang menuntun kita bersama Bunda Maria untuk semakin mengenal dan mencintai Kristus,” tuturnya.
Sementara itu, Zetra Hail Saragih memaparkan makna simbolis angka 50 dalam Kitab Suci, khususnya Tahun Yobel sebagaimana tertulis dalam Kitab Imamat 25:10-11, yang melambangkan pembebasan, pemulihan, dan rahmat Allah. Ia juga menjelaskan bahwa pengulangan doa Rosario dapat menjadi irama kontemplasi yang membantu umat menemukan ketenangan batin serta memperdalam hubungan dengan Allah. “Rosario mengajak kita berdoa dengan hati yang tenang, sehingga setiap pengulangan Salam Maria menjadi kesempatan untuk membuka diri terhadap rahmat dan damai Tuhan,” jelas Zetra.
Pada kesempatan yang sama, Hekdi Jojada Sinaga menjelaskan bahwa satu rangkaian Rosario terdiri atas lima peristiwa, dengan masing-masing peristiwa memuat sepuluh kali Salam Maria, didahului doa Bapa Kami dan diakhiri Kemuliaan. Ia menekankan bahwa struktur tersebut membantu umat merenungkan perjalanan keselamatan Kristus, mulai dari peristiwa sukacita, terang, penderitaan, hingga kemuliaan. Hekdi juga mengingatkan bahwa Rosario merupakan doa yang berpusat pada Kristus, sebagaimana ditegaskan dalam ajaran Gereja melalui dokumen Rosarium Virginis Mariae dan Marialis Cultus.
Melalui siaran tersebut, para penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan mengajak umat untuk menghidupi doa Rosario bukan hanya sebagai rutinitas, tetapi sebagai sarana pertumbuhan iman, pembentukan ketekunan rohani, serta penguatan kehidupan keluarga Katolik. Dukungan dan arahan Marulam Nainggolan turut membantu kelancaran pelaksanaan siaran dari awal hingga akhir. Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan pendarasan sepuluh kali Salam Maria yang dipimpin Hekdi Jojada Sinaga. Melalui program Ruang Bimas Katolik, penyuluhan iman diharapkan semakin menjangkau masyarakat luas serta membantu umat memahami dan menghayati kekayaan tradisi doa dalam Gereja Katolik.

