Pimpin Doa Hari Cuci Tangan Pakai Sabun, Kepala KUA Medan Area Tekankan Pentingnya Hidup Bersih

Medan (Kemenag) — Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun merupakan langkah sederhana yang memiliki manfaat besar dalam menjaga kesehatan. Karena itu, pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat perlu ditanamkan sejak usia dini, khususnya kepada peserta didik di lingkungan sekolah.

Pesan tersebut mengemuka dalam Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (Global Handwashing Day) yang dilaksanakan di SD Muhammadiyah 01 Jalan Demak, Kota Medan, Selasa (6/10/2026). Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Area, Julhaidir Sembiring, M.Ag., turut hadir sekaligus memimpin doa pada kegiatan tersebut.

Kegiatan dihadiri perwakilan Ketua TP PKK Kota Medan, TP PKK Kecamatan Medan Area, Kepala Puskesmas Jalan Amaliun, Pimpinan Cabang Muhammadiyah, Kepala SD dan SMP Muhammadiyah 01 Jalan Demak Medan, perwakilan Danramil, perwakilan Kapolsek, perwakilan Camat Medan Area, serta para guru dan peserta didik.

Dalam kesempatan tersebut, Julhaidir memimpin doa agar seluruh rangkaian kegiatan mendapatkan keberkahan dan memberikan manfaat bagi seluruh peserta. Ia juga mendoakan agar momentum tersebut dapat meningkatkan kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kebersihan, kesehatan diri, keluarga, lingkungan, serta membiasakan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Julhaidir, kebersihan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga memiliki nilai penting dalam kehidupan beragama. Bagi seorang Muslim, menjaga kebersihan dan kesucian merupakan bagian dari upaya membangun kehidupan yang baik, sehingga nilai-nilai keagamaan dapat berjalan seiring dengan penerapan pola hidup bersih dan sehat.

“Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa menjaga kebersihan diri, keluarga dan lingkungan. Berikanlah kepada kami kesehatan dan kesadaran untuk membiasakan hidup bersih dan sehat, karena kebersihan merupakan bagian penting dari kehidupan seorang muslim,” demikian salah satu bagian doa yang disampaikan Julhaidir.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada peringatan seremonial, tetapi dapat dilanjutkan melalui kebiasaan nyata di lingkungan sekolah maupun di rumah. Menurutnya, anak-anak perlu diberikan pemahaman sekaligus contoh secara langsung agar mencuci tangan menggunakan sabun menjadi kebiasaan yang dilakukan secara sadar dan konsisten.

“Menjaga kebersihan harus dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana. Mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu bentuk ikhtiar menjaga kesehatan yang dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk anak-anak sejak usia dini,” ujar Julhaidir.

Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia menjadi momentum untuk memperkuat edukasi mengenai pentingnya kebersihan tangan sebagai bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat. Lingkungan sekolah menjadi salah satu tempat strategis untuk menanamkan kebiasaan tersebut karena peserta didik dapat belajar, mempraktikkan, dan membawa kebiasaan baik itu ke lingkungan keluarga.

Julhaidir juga mengajak para peserta didik untuk tidak menganggap mencuci tangan sebagai kegiatan sepele. Kebiasaan tersebut perlu dilakukan pada waktu-waktu penting, terutama sebelum makan dan setelah melakukan aktivitas yang berpotensi membuat tangan kotor, sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan dan kesehatan.

Selain peserta didik, peran guru dan keluarga juga dinilai penting dalam membangun kebiasaan tersebut. Keteladanan dari orang dewasa akan membantu anak memahami bahwa perilaku hidup bersih bukan sekadar materi yang dipelajari, tetapi merupakan kebiasaan yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Anak-anak akan lebih mudah membiasakan perilaku hidup bersih apabila lingkungan di sekitarnya memberikan contoh yang sama. Karena itu, sekolah, keluarga, pemerintah, tenaga kesehatan, dan seluruh unsur masyarakat perlu berjalan bersama dalam memberikan edukasi dan keteladanan,” tambahnya.

Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mendukung pembentukan generasi yang sehat dan berkarakter. Kolaborasi antara unsur pendidikan, pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, serta keluarga menjadi kekuatan bersama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *