Medan (Humas) — Pendampingan rohani menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap kebutuhan spiritual warga binaan perempuan yang menjalani masa pembinaan di rumah tahanan. Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan melaksanakan kegiatan pembinaan keagamaan di Rutan Perempuan Kelas IIA Medan pada Kamis (15/10/2026). Mengusung semangat “Membina dengan Hati, Menyentuh dengan Jiwa”, kegiatan ini menjadi wujud pelayanan keagamaan yang mengedepankan kepedulian, penguatan iman, dan dukungan moral. Melalui pendampingan tersebut, warga binaan diharapkan memperoleh ketenangan batin serta semangat untuk menjalani masa pembinaan dan menata masa depan.
Warga binaan perempuan dapat menghadapi beragam pergumulan selama menjalani masa tahanan, mulai dari keterpisahan dengan keluarga hingga kekhawatiran terhadap penerimaan masyarakat setelah kembali ke lingkungan sosial. Selain itu, perubahan peran sebagai ibu atau istri serta pengalaman hidup yang berat dapat menambah beban emosional yang dirasakan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pendampingan yang tidak hanya memperhatikan kebutuhan fisik, tetapi juga menyentuh aspek mental, sosial, dan spiritual. Oleh karena itu, pembinaan keagamaan diharapkan menjadi ruang untuk melakukan refleksi diri, memperkuat keyakinan, dan menumbuhkan harapan dalam menjalani kehidupan.
Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan, M. Iqbal, mengajak warga binaan untuk menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Allah Swt. Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman masa lalu serta membangun kehidupan yang lebih baik. “Kami hadir untuk mendampingi dan menguatkan warga binaan agar tetap memiliki harapan, memperbaiki diri, serta menyadari bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar M. Iqbal. Pesan tersebut menjadi penguatan agar warga binaan tetap bersemangat menjalani proses pembinaan dan tidak kehilangan harapan terhadap masa depan.
Selain memberikan penguatan spiritual, pembinaan ini juga mengajak warga binaan menumbuhkan nilai kesabaran, rasa syukur, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menjadi bekal dalam menghadapi tantangan selama berada di rumah tahanan maupun ketika kembali ke tengah masyarakat. Senada dengan hal itu, pendekatan yang mengedepankan empati dan kepedulian dapat membuka ruang bagi warga binaan untuk merenungkan pengalaman hidup serta memaknai proses perubahan diri. Dengan demikian, pembinaan rohani tidak hanya menjadi sarana penyampaian ajaran agama, tetapi juga bagian dari upaya membangun keyakinan untuk melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Sementara itu, pendampingan rohani juga menjadi pengingat bahwa setiap warga binaan tetap memiliki martabat dan membutuhkan dukungan dalam menjalani proses pembinaan. Kehadiran penyuluh agama diharapkan dapat memberikan penghiburan sekaligus menumbuhkan sikap optimistis dalam menghadapi masa depan. Selain itu, penguatan nilai-nilai keagamaan diharapkan membantu warga binaan membangun hubungan yang lebih baik dengan keluarga dan lingkungan sosial. Melalui pembinaan yang berkesinambungan, warga binaan diharapkan semakin termotivasi untuk menjalani perubahan positif dengan kesabaran dan tanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, Kemenag Kota Medan terus mendorong peran Penyuluh Agama Islam dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat, termasuk warga binaan perempuan. Semangat membina dengan hati dan menyentuh dengan jiwa menjadi landasan untuk menghadirkan pendampingan yang mengutamakan kepedulian, penguatan iman, dan penghargaan terhadap martabat manusia. Pelayanan tersebut diharapkan dapat membantu warga binaan menemukan kembali semangat hidup serta mempersiapkan diri untuk kembali berperan positif di tengah masyarakat. Dengan demikian, pembinaan rohani menjadi bagian dari upaya menumbuhkan pribadi yang lebih kuat, bertanggung jawab, dan memiliki harapan untuk masa depan.

