Medan (Humas) – Kelompok Kerja Guru (KKG) Madrasah Ibtidaiyah (MI) Medan Polonia dan Medan Kota mengikuti bimbingan teknis (bimtek) bertema “Peningkatan Kompetensi Guru MI melalui Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Insersi terhadap Kurikulum Berbasis Cinta” pada Rabu (14/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Yayasan MIS Muhajirin, Kecamatan Medan Polonia, ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah. Bimtek tersebut dilaksanakan di bawah binaan Pengawas Madrasah Ernawati, S.Ag., M.Si., dengan menghadirkan Dewi Melani Hadibu, M.Pd., sebagai narasumber. Melalui kegiatan ini, para guru diharapkan mampu mengembangkan pembelajaran yang lebih bermakna, menyenangkan, serta berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.
Dalam pemaparannya, Dewi Melani Hadibu menjelaskan bahwa Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada murid untuk belajar sesuai kebutuhan dan mendorong guru mengembangkan pembelajaran yang lebih fleksibel. Selain itu, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bukan merupakan kurikulum baru, melainkan penguatan atau insersi nilai-nilai Panca Cinta ke dalam proses pembelajaran di madrasah. “Kurikulum Berbasis Cinta merupakan penguatan nilai kasih sayang dalam pendidikan, sehingga proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan akhlak peserta didik,” jelasnya. Menurutnya, penerapan nilai-nilai tersebut perlu diintegrasikan secara nyata dalam kegiatan pembelajaran agar murid dapat tumbuh menjadi pribadi yang beriman, peduli, dan bertanggung jawab.
Lebih lanjut, Dewi menjelaskan bahwa penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) atau modul ajar perlu mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP) mata pelajaran umum dan agama sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dari CP tersebut, guru dapat merumuskan Tujuan Pembelajaran (TP) dengan mempertimbangkan Kata Kerja Operasional (KKO), materi, Dimensi Profil Lulusan (DPL), dan Panca Cinta, kemudian mengembangkannya menjadi Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). Sementara itu, Panca Cinta mencakup cinta kepada Allah dan Rasul, cinta kepada diri sendiri dan sesama, cinta kepada alam, cinta kepada ilmu, serta cinta kepada negara. “Guru perlu memastikan bahwa nilai-nilai Panca Cinta tidak hanya tertulis dalam modul ajar, tetapi juga hadir dalam aktivitas pembelajaran dan menjadi bagian dari kebiasaan baik di lingkungan madrasah,” terangnya.
Pada materi berikutnya, narasumber memaparkan Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning sebagai pendekatan yang menekankan proses belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara terpadu. Pendekatan ini mencakup delapan dimensi profil lulusan, tiga prinsip pembelajaran, tiga pengalaman belajar, serta empat kerangka pembelajaran. Adapun delapan dimensi profil lulusan meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewarganegaraan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. “Pembelajaran mendalam mengajak guru menciptakan pengalaman belajar yang membuat murid mampu memahami materi, mengaplikasikannya dalam kehidupan, dan merefleksikan proses yang telah dijalani,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Dewi menjelaskan bahwa tiga prinsip Pembelajaran Mendalam terdiri atas pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, sedangkan pengalaman belajar mencakup memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Empat kerangka pembelajarannya meliputi praktik pedagogik, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pemanfaatan digital. Dalam penerapannya, guru dapat menggunakan berbagai model pembelajaran, seperti Problem Based Learning (PBL), Project Based Learning (PjBL), Discovery Learning, Cooperative Learning, dan Inquiry, sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik murid. Selain itu, insersi Kurikulum Berbasis Cinta ke dalam Kurikulum Merdeka dapat dilakukan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan budaya madrasah dengan mengintegrasikan Dimensi Profil Lulusan serta nilai-nilai Panca Cinta.
Melalui bimtek ini, para guru KKG MI Medan Polonia dan Medan Kota memperoleh penguatan pemahaman mengenai penyusunan modul ajar yang mengintegrasikan Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta. Komponen modul ajar yang dibahas meliputi identitas, identifikasi kesiapan murid, tema, karakteristik, materi pelajaran, Dimensi Profil Lulusan, Capaian Pembelajaran, Tujuan Pembelajaran, indikator, kegiatan inti, penutup, dan asesmen. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan oleh guru dalam merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid sekaligus menanamkan nilai-nilai cinta dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi salah satu langkah penguatan kompetensi guru dalam mewujudkan pembelajaran madrasah yang berkualitas, humanis, dan berkarakter.

