PAI KUA Medan Labuhan Ajak Jamaah Majelis Taklim Al Ikhlas Renungi Tiga Panggilan Allah SWT

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Labuhan, Sulaiman, S.Th.I., mengajak jamaah Majelis Taklim Al Ikhlas untuk merenungi tiga panggilan Allah SWT dalam kehidupan seorang Muslim, yakni panggilan salat, panggilan haji, dan panggilan kematian. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama Islam pada Jumat (23/10/2026), sebagai upaya meningkatkan kesadaran spiritual serta mendorong jamaah mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Dalam penyuluhannya, Sulaiman menjelaskan bahwa ketiga panggilan tersebut memiliki makna mendalam yang dapat menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Panggilan salat mengingatkan manusia untuk memenuhi kewajiban beribadah, panggilan haji menjadi kesempatan bagi umat Islam yang mampu untuk menyempurnakan rukun Islam, sedangkan panggilan kematian mengingatkan bahwa kehidupan dunia memiliki batas dan setiap manusia akan kembali menghadap Sang Pencipta.

Sulaiman menekankan bahwa panggilan pertama adalah panggilan salat melalui azan yang berkumandang lima kali sehari. Menurutnya, azan bukan sekadar penanda waktu ibadah, melainkan seruan bagi umat Islam untuk memenuhi kewajiban sekaligus memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Salat hendaknya tidak dipandang hanya sebagai rutinitas, tetapi juga sebagai kebutuhan rohani yang dapat menghadirkan ketenangan hati, memperkuat keimanan, dan membentuk akhlak yang baik.

Ia mengingatkan jamaah agar senantiasa menyambut panggilan salat dengan penuh kesadaran dan tidak menunda-nunda pelaksanaannya tanpa alasan yang dibenarkan. Kedisiplinan dalam menunaikan salat menjadi salah satu bentuk ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Karena itu, setiap Muslim perlu menjadikan salat sebagai prioritas dalam kehidupan sehari-hari, di tengah kesibukan pekerjaan maupun urusan keluarga.

Panggilan kedua, lanjut Sulaiman, adalah panggilan untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi umat Islam yang telah memenuhi persyaratan dan memiliki kemampuan. Ibadah haji tidak hanya memerlukan kesiapan finansial, tetapi juga niat yang tulus, kesiapan fisik dan mental, serta pemahaman terhadap tata cara pelaksanaannya. Oleh karena itu, jamaah diajak untuk menanamkan niat sejak dini, mempersiapkan kemampuan sesuai kondisi masing-masing, dan terus menjaga keistiqamahan dalam beribadah.

Sulaiman juga mengingatkan bahwa keinginan menunaikan ibadah haji hendaknya disertai ikhtiar dan doa. Bagi jamaah yang telah memiliki kemampuan, persiapan perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh sesuai ketentuan yang berlaku. Sementara itu, bagi yang belum mampu, keinginan tersebut dapat menjadi motivasi untuk memperbaiki diri, meningkatkan amal ibadah, dan berusaha sesuai kemampuan tanpa mengabaikan kewajiban terhadap keluarga.

Panggilan ketiga adalah panggilan kematian, sebuah kepastian yang waktu kedatangannya tidak diketahui oleh manusia. Sulaiman mengajak jamaah menyadari bahwa kehidupan dunia bersifat sementara sehingga setiap kesempatan yang dimiliki perlu dimanfaatkan untuk melakukan kebaikan. Berbeda dengan salat yang waktunya diketahui dan ibadah haji yang dapat dipersiapkan bagi yang mampu, kematian dapat datang kapan saja ketika waktunya telah tiba.

Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan jamaah agar tidak terlalu terlena dengan urusan duniawi hingga melupakan persiapan untuk kehidupan akhirat. Bekal menghadapi kematian bukan semata-mata harta atau kedudukan, melainkan keimanan, amal saleh, akhlak yang baik, serta hubungan yang terjaga dengan Allah SWT dan sesama manusia. Kesadaran terhadap kematian diharapkan mampu mendorong setiap Muslim untuk memperbaiki diri selagi masih diberi kesempatan hidup.

Sulaiman mengajak jamaah menjadikan tiga panggilan Allah SWT tersebut sebagai bahan introspeksi dalam kehidupan sehari-hari. Pesan keagamaan ini diharapkan tidak berhenti pada pemahaman, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menjaga salat lima waktu, berikhtiar menunaikan ibadah haji bagi yang mampu, memperbanyak amal saleh, serta menjaga silaturahmi dan kepedulian terhadap sesama.

Kegiatan bimbingan dan penyuluhan yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut ditutup dengan sesi diskusi dan doa bersama. Melalui diskusi, jamaah memperoleh kesempatan untuk memperdalam pemahaman terhadap materi yang disampaikan serta mengaitkan pesan-pesan keagamaan dengan tantangan kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, KUA Kecamatan Medan Labuhan terus mendorong penguatan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat. Diharapkan jamaah Majelis Taklim Al Ikhlas semakin meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat keimanan, dan menjadikan kehidupan dunia sebagai kesempatan untuk mengumpulkan amal kebaikan serta mempersiapkan diri menghadap Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *