Pokjawas Madrasah Hadiri Sosialisasi dan Bimbingan Penerapan Madrasah Inklusif, Ramah Anak, dan Aman Bencana di MTsN 1 Medan

Medan (Humas) — Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Madrasah Kota Medan mengikuti kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Penerapan Madrasah Inklusif, Ramah Anak, dan Aman Bencana yang dilaksanakan di MTsN 1 Medan pada Rabu (5/11). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas layanan pendidikan madrasah, terutama dalam memastikan bahwa setiap peserta didik memperoleh hak belajar yang aman, nyaman, dan berkeadilan.

Ketua Pokjawas Madrasah Kota Medan, Sarianto, S.Ag., hadir langsung mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari pemaparan kebijakan, pendalaman materi inklusivitas, hingga diskusi teknis mengenai penerapan sekolah ramah anak dan aman bencana. Kehadiran Pokjawas Madrasah mempertegas komitmen pengawasan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan belajar seluruh peserta didik, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama, Kasubdit Pendidikan Vokasi dan Inklusif Direktorat KSKK Madrasah, Dr. Anis Masykhur, MA. Dengan pengalaman dan fokus kerjanya pada pendidikan inklusif, ia menyampaikan gambaran menyeluruh mengenai arah kebijakan Kementerian Agama serta langkah-langkah yang perlu ditempuh madrasah dalam menerapkan layanan pendidikan yang inklusif dan aman.

Dalam sambutannya, Ketua Pokjawas Madrasah, Sarianto, S.Ag., menekankan bahwa keberhasilan penerapan madrasah inklusif sangat bergantung pada kesiapan semua unsur madrasah.

“Penerapan inklusivitas tidak hanya soal fasilitas, tetapi juga tentang kesadaran bersama. Kami ingin memastikan bahwa guru, pengawas, dan pimpinan madrasah memiliki pemahaman dan komitmen yang sama untuk menghadirkan ruang belajar yang aman, ramah, dan terbuka bagi semua anak,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Anis Masykhur, MA, menegaskan bahwa pendidikan inklusif dan ramah anak merupakan agenda strategis yang harus diinternalisasikan dalam budaya madrasah.

“Madrasah inklusif berarti setiap anak, tanpa terkecuali, mendapatkan kesempatan belajar yang adil. Kita tidak hanya menerima keberagaman, tetapi juga merangkulnya sebagai kekuatan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kesiapsiagaan bencana juga menjadi hal penting untuk memperkuat perlindungan terhadap peserta didik.

“Madrasah harus memiliki sistem yang jelas, mulai dari mitigasi, simulasi, hingga prosedur evakuasi, agar warga madrasah siap menghadapi situasi darurat,” tutur Dr. Anis.

Melalui kegiatan sosialisasi dan bimbingan ini, diharapkan madrasah-madrasah di Kota Medan dapat semakin matang dalam menerapkan konsep inklusi, ramah anak, dan aman bencana. Penguatan kapasitas ini menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa pendidikan di madrasah tidak hanya menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga terlindungi, dihargai, dan difasilitasi sesuai kebutuhan masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *