Podcast Edisi Ke-11, Penyuluh Agama Katolik Medan Ajak Umat Hidupi Semangat Moderasi Beragama dalam Nostra Aetate

Medan (Humas) Penyuluh Agama Katolik Kota Medan mengajak umat untuk memperkuat semangat moderasi beragama dalam Gereja Katolik melalui podcast bertema “Membangun Moderasi Beragama Menurut Nostra Aetate”, yang dilaksanakan di kompleks kampus Universitas Katolik Santo Thomas Medan, Jumat, (7/11/2025).  Ini podcast edisi ke-11 yang sudah dilangsungkan oleh Bimas Katolik Kota Medan untuk menyukseskan program Ditjen Bimas Katolik RI.

Acara ini dipandu oleh Ricardo Simamora, S.Ag. dengan narasumber Marulam Nainggolan, S.S. dan Hamma Sitohang, S.Ag. Dalam kesempatan tersebut, dijelaskan bahwa Nostra Aetate, dokumen Gereja Katolik yang diterbitkan pada 1965, berisi tentang cara pandang Gereja terhadap agama lain. Dokumen ini menegaskan martabat setiap manusia sebagai ciptaan Tuhan, apa pun agama dan aliran kepercayaannya, tanpa kehilangan nilai kekatolikan. 

Dari hasil perbincangan terungkap, ada empat poin penting dalam dokumen Nostra Aetate yang menebarkan jalan moderasi dalam Gereja Katolik. Pertama, adanya pengakuan bahwa seluruh umat manusia memiliki asal-usul yang sama, yaitu Tuhan. Ini dasar teologis untuk persaudaraan universal. Setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang memiliki martabat dan nilai yang sama sehingga harus dihargai dan segala bentuk diskriminasi dicegah.

Kedua, adanya dorongan agar tidak alergi dengan kebenaran dan kekudusan dalam agama lain. Gereja Katolik menyatakan tidak menolak apa pun yang dalam agama lain serba benar dan suci. Dorongan ini bukan relativisme ajaran agama sehingga tidak mengurangi keyakinan pada kebenaran Injil, tetapi justru memperkaya pemahaman kita akan kebesaran Tuhan yang bekerja dalam berbagai cara dan melalui berbagai tradisi keagamaan dan aliran kepercayaan.

Ketiga, adanya himbauan untuk membuka dialog dan kerja sama antaragama. Dialog dan kerja sama merupakan kunci moderasi beragama. Moderasi tanpa dialog akan jatuh pada sebatas toleransi belaka yang bermakna ‘membiarkan, menerima, menanggung’. Dalam dialog, umat beriman belajar mendengarkan dengan empati, menghormati pandangan dan keyakinan yang berbeda, dan mencari solusi bersama terhadap tantangan yang dihadapi.

Keempat, adanya komitmen untuk menolak diskriminasi dan kekerasan dalam bentuk apa pun. Moderasi beragama bisa menjadi kenyataan apabila hak asasi manusia dihargai serta ada kerja sama dalam memajukan keadilan dan perdamaian. Agama harus menjadi tiang terdepan pembela penghormatan terhadap nilai kemanusiaan. Diskriminasi dan kekerasan, apalagi bernuasa agama, mengkhianati jati diri agama, yang kodratnya membawa kasih dan damai.

Di akhir diskusi, kedua narasumber kompak memberi himbauan ke penonton. “Marilah kita hidupi semangat Nostra Aetate yang mengajak kita melihat wajah Tuhan dalam diri sesama, tanpa memandang perbedaan agama”, pesan Marulam. 

“Mari kita jadikan moderasi beragama dalam Nostra Aetete sebagai gaya hidup, bukan sekadar wacana. Hanya dengan saling menghormati, kita bisa membangun masyarakat yang damai dan beradab”, tambah Hamma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *