Menyuluh Lewat Radio, Penyuluh Agama Katolik Medan Bahas Surat Apostolik Paus Leo XIV sebagai Peta Baru Pendidikan dan Harapan

Medan (Humas) – Dalam upaya memperluas jangkauan, Penyuluh Agama Katolik Kota Medan Ricardo Simamora, S.Ag., dan Hekdi Jojada Sinaga, S.Fil. memanfaatkan media radio sebagai sarana menyuluh. Melalui program siaran di Radio Maria Indonesia (RMI), Kamis (7/11/2025), mereka membahas Surat Apostolik Paus Leo XIV berjudul Drawing New Maps of Hope sebagai peta baru bagi pendidikan dan harapan umat Katolik di era digital.

Hekdi menjelaskan, Paus Leo XIV menekankan tiga pesan penting dalam suratnya, yakni pendidikan sebagai ungkapan kasih Kristiani, keprihatinan terhadap krisis pendidikan global, serta perlunya menjadikan pendidikan Katolik sebagai jembatan antara iman, kebudayaan, dan kehidupan nyata.

“Surat Paus ini mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya soal pengajaran intelektual, tetapi juga pembentukan hati dan karakter,” ungkapnya.

Sementara itu, Ricardo menyoroti pentingnya meneladani semangat para santo pelindung dunia pendidikan, seperti Yohanes Don Bosco dan Yohanes Baptista de La Salle.

“Don Bosco percaya bahwa anak-anak tidak cukup dikasihi, tetapi harus merasakan bahwa mereka sungguh dicintai,” ujarnya. Menurutnya, semangat pelayanan kasih tersebut harus dihidupi pendidik dalam mendampingi umat di tengah arus globalisasi dan perubahan nilai zaman.

Keduanya juga menegaskan bahwa pendidikan merupakan bagian inti dari pewartaan kasih, bukan sekadar transfer pengetahuan. Paus Leo XIV dalam suratnya mengingatkan pentingnya keadilan ekologis, tanggung jawab digital, serta penggunaan kecerdasan buatan secara etis demi kemanusiaan.

“Pendidikan sejati harus membentuk manusia yang bijak secara moral dan bertanggung jawab terhadap sesama serta lingkungan,” tegas Hekdi.

Siaran ditutup dengan ajakan bagi seluruh umat Katolik untuk terus membangun semangat harapan melalui karya pendidikan dan pelayanan.

“Penyuluh Agama Katolik juga menjadi pembawa harapan dan pendidik sejati yang menolong umat menemukan makna hidup dan martabatnya,” pungkas Hekdi.

Ricardo menambahkan bahwa semangat pendidikan Katolik harus terus hidup di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Ia menegaskan, para pendidik dan penyuluh memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan wajah Gereja yang penuh kasih, terbuka terhadap perubahan, namun tetap berakar pada iman.

“Kita semua dipanggil untuk terus menarik peta-peta baru harapan di keluarga, sekolah, dan komunitas masing-masing,” ujar Ricardo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *