Semangat Tak Surut, MIN 5 Medan Laksanakan Upacara Hari Guru ke-80 Meski Diguyur Hujan

Medan (Humas) Upacara memperingati Hari Guru ke-80 di MIN 5 Kota Medan akhirnya digelar pada Rabu pagi, meskipun hujan tak henti-hentinya mengguyur sejak dini hari.

Rencana semula untuk memulai upacara pada pukul 07.30 WIB terpaksa diundur. Baru pada pukul 08.30 WIB, setelah hujan sedikit mereda, barisan siswa dan guru akhirnya berkumpul dan memutuskan untuk tetap melaksanakan upacara dalam kondisi hujan ringan. Keputusan ini disambut tepuk tangan meriah dari siswa, menandakan semangat mereka untuk menghormati guru tetap menyala, meski cuaca kurang bersahabat.


Sebagai pembina upacara, Kepala MIN 5 Kota Medan, Sri Darmawati, S.Pd., tampil mengenakan pakaian formal dan membacakan pidato resmi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang menetapkan tema nasional tahun ini: “Guru Hebat, Indonesia Kuat” — tema yang menggarisbawahi peran guru sebagai fondasi kemajuan bangsa.


Dalam pidatonya, Sri Darmawati menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi para guru di MIN 5 Medan: dari pagi hingga sore, mereka tak pernah lelah membimbing, mendidik, dan menempa karakter siswa. Ia berharap semangat pengabdian itu terus menyala di tengah tantangan zaman. Di tengah rintik hujan, suasana terasa khusyuk — seolah hujan pun memberi penghormatan tersendiri bagi para pendidik.


Setelah rangkaian formal, suasana berubah hangat ketika para siswa menampilkan penghargaan simbolis bagi guru. Sebanyak 30 guru menerima sematan bunga, masing-masing dari siswa — sebuah bentuk penghormatan sederhana namun sarat makna. Mata para guru berkaca-kaca melihat antusiasme dan rasa terima kasih yang tulus dari murid-muridnya.


Tak berhenti di situ, peringatan Hari Guru ke-80 juga diramaikan dengan penampilan seni. Gelombang suara pianika dari siswa kelas 5B mengalun pelan membawakan lagu hymne guru, mengundang tepuk tangan meriah dari hadirin. Setelah itu, giliran siswa kelas 6 membawakan puisi penuh haru — siswa bernama Haura Varisha memukau hadirin dengan bait-bait tulisannya yang menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada guru-guru yang telah membimbing mereka.


Selanjutnya, perwakilan siswa mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada para guru atas bimbingan dan dedikasi mereka — suasana penuh haru mewarnai lapangan sekolah. Bahkan siswa kelas 2C, melalui Elis Sanjaya, membacakan puisi singkat yang penuh rasa syukur, menegaskan bahwa penghargaan bukan hanya tentang kata, tapi tulus dari hati siswa kecil yang merasakan dampak bimbingan guru setiap hari.


Sesuai tata upacara, bendera tetap dinaikkan oleh petugas upacara — dan uniknya, petugas upacara pada hari itu seluruhnya adalah guru-guru MIN 5 Medan sendiri. Momen ini terasa simbolik: guru tidak hanya sebagai pembina dan pendidik, tetapi juga sebagai pelaku upacara — menegaskan bahwa Hari Guru adalah milik mereka, di mana mereka diposisikan sebagai sosok utama dan pusat penghormatan.


Peringatan ke-80 ini meninggalkan kesan kuat: meskipun hujan sempat menunda awal upacara, semangat dan rasa hormat siswa terhadap guru tak pernah surut. Dari sematan bunga hingga puisi, dari melodi pianika hingga bendera berkibar — semua menyatu menjadi penghormatan tulus atas jasa para guru. MIN 5 Kota Medan menunjukkan bahwa penghargaan kepada guru bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi rasa terima kasih yang nyata, dari hati murid, untuk pahlawan tanpa tanda jasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *