Penyuluh Kristen Bangkitkan Kesadaran Rohani Warga Binaan untuk Selalu Siap di Hadapan Tuhan

Medan (Humas) — Suasana penuh kekhidmatan menyelimuti Polsek Medan Tuntungan di Jalan Bunga Turi 3, Kelurahan Lauchi, Kecamatan Medan Tuntungan, saat Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kota Medan kembali melaksanakan kegiatan Pelayanan Rohani (Bimroh), Jumat (5/12). Pelayanan rutin ini menjadi wadah pembinaan moral, mental, dan spiritual warga binaan agar semakin siap menjalani kehidupan dengan bijaksana di bawah bimbingan Tuhan.

Kegiatan ini menghadirkan Asima Manik, S.Pd sebagai pengkhotbah utama, didampingi oleh Mona Sembiring, Pitri Sihotang, Rohana Simamora, Amanda Purba, dan Junita Tumanggor. Keterlibatan para penyuluh menunjukkan komitmen kuat Kemenag Kota Medan dalam menghadirkan pendampingan rohani yang konsisten bagi warga binaan.

Dalam renungannya yang mengangkat Matius 25:1–12, Asima menekankan bahwa Firman Tuhan memiliki kekuatan yang mampu menyingkapkan isi hati dan menuntun manusia menuju pertobatan.

“Hidup itu seperti pelita yang harus selalu dinyalakan,” ujar Asima Manik di hadapan warga binaan. Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan, kehati-hatian, disiplin, dan kemauan untuk berubah adalah sikap yang harus dijaga setiap hari.

Ia menekankan bahwa perumpamaan tentang lima gadis bijaksana menjadi teladan bagi setiap orang untuk tidak menunda memperbaiki diri.

“Kesempatan tidak selalu datang dua kali. Karena itu, jadilah pribadi yang siap, yang tidak menunda-nunda kebaikan, sebagaimana lima gadis bijaksana yang membawa minyak cadangan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Asima mengajak warga binaan untuk memandang Firman Tuhan bukan sekadar bacaan, tetapi sebagai kekuatan hidup.

“Firman Tuhan itu seperti pelita yang menembus gelap. Ia menyingkapkan bagian-bagian diri kita yang perlu diubah, sekaligus memberi arah untuk melangkah kembali,” tegasnya.

Dalam perspektif Ekoteologi, Asima memberikan gambaran yang menyentuh. “Pertobatan itu seperti tanah yang digemburkan kembali. Ketika hati mau dibuka dan diperbarui, kehidupan yang baru dapat tumbuh di dalamnya,” ujarnya, memberi penguatan bagi warga binaan untuk tidak menyerah pada keadaan.

Suasana pembinaan semakin mendalam ketika sesi doa bersama berlangsung. Para warga binaan mengikuti dengan khidmat, menjadikan doa tersebut sebagai permohonan akan kekuatan baru dan arah hidup yang lebih baik.

“Doa bersama ini adalah simbol bahwa kita sedang tumbuh bersama. Seperti hutan yang kembali subur setelah menerima hujan, demikian pula hidup manusia akan pulih ketika menerima sentuhan kasih Tuhan,” tutup Asima Manik.

Kemenag Kota Medan berharap kegiatan Bimroh yang terus digiatkan ini dapat membantu warga binaan membangun karakter yang bermartabat, berintegritas, dan selaras dengan nilai-nilai Moderasi Beragama. Melalui pembinaan spiritual yang berkelanjutan, warga binaan diharapkan mampu meninggalkan masa lalu yang kelam dan menyongsong masa depan dengan harapan baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *