Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam KUA Medan Kota, Tgk. M. Nizamuddin, S.Ag., SH., M.Pd., kembali memberikan pencerahan kepada umat melalui Kuliah Subuh yang dilaksanakan di Masjid Raya Ijtimaiyyah Medan, Jalan Letda Sudjono Tembung. Kehadirannya pada Ahad pagi tersebut disambut hangat oleh jamaah yang antusias mengikuti materi bimbingan yang mengupas persoalan fiqih ibadah dan kepedulian lingkungan.
Dalam tausiyahnya, Tgk. Nizamuddin membahas tentang cara melaksanakan salat bagi seseorang yang berada dalam kondisi faqidut thahurain, yaitu keadaan ketika tidak ditemukan air maupun debu untuk bersuci. Ia menegaskan bahwa Islam selalu memberikan kemudahan tanpa mengurangi kesempurnaan ibadah. “Ketika seseorang tidak mendapatkan air dan tidak pula menemukan debu untuk tayamum, ia tetap diwajibkan salat sesuai kemampuan. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang tidak membebani hamba-Nya melebihi kapasitasnya,” ujarnya di hadapan jamaah.
Beliau menambahkan bahwa pengetahuan fiqih seperti ini sangat penting agar umat mampu bersikap tenang dan tetap menjalankan ibadah dalam situasi darurat. Ia juga menegaskan bahwa setiap muslim perlu memahami hukum-hukum dasar agar tidak ragu dalam menghadapi keadaan genting. “Ilmu ini bukan sekadar teori, tetapi pedoman hidup. Ketika menghadapi kondisi sulit, kita tetap bisa menunaikan salat tanpa keluar dari aturan syariat,” jelasnya lebih lanjut.
Selain memberikan pembinaan terkait ibadah, Tgk. Nizamuddin juga menyampaikan pesan ekoteologi yang mengajak umat untuk mencintai dan menjaga lingkungan, khususnya daerah aliran sungai (DAS). Ia menjelaskan bahwa kepedulian terhadap alam merupakan bagian dari amal ibadah seorang muslim. “Merawat sungai adalah bagian dari tugas kita sebagai khalifah di bumi. Lingkungan yang bersih adalah wujud syukur dan ketaatan kepada Allah,” tegasnya.
Lebih rinci, ia mengajak jamaah untuk melakukan tindakan nyata dalam menjaga sungai, seperti tidak membuang sampah ke sungai, memastikan tidak ada pembangunan yang merusak bantaran sungai, tidak membuang limbah industri ke aliran air, serta menanam kembali pohon-pohon antiabrasi seperti mangrove, akasia, mahoni, dan berbagai tanaman penyerap air lainnya. “Ini semua adalah ikhtiar yang mencerminkan rasa syukur dan bentuk ibadah kepada Allah melalui amalan ekoteologi,” ungkapnya menutup tausiyah.
Kegiatan Kuliah Subuh ini diharapkan mampu memperluas wawasan keagamaan masyarakat Medan Kota, menguatkan pemahaman fiqih, serta menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah yang mendatangkan keberkahan.
Wallahu A’lam bish-shawab.

