Medan (Humas) Penyuluh Agama Katolik memberikan motivasi dan pendampingan mental-spiritual kepada para penyintas narkoba di Panti Rehabilitasi Yayasan Caritas PSE Keuskupan Agung Medan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 15 Desember 2025, sebagai bagian dari upaya mendampingi para penyintas untuk kembali mengenali jati diri sebagai insan rasional serta menata hidup secara lebih bermakna.
Kegiatan pembinaan tersebut mengusung tema Mengelola Pikiran, Menata Perilaku dan diikuti dengan antusias oleh para peserta rehabilitasi. Hadir sebagai penyuluh dalam kegiatan ini Hamma Sitohang, S.Ag, Marulam Nainggolan, S.S., dan Leonhard Hutagalung, S.S. Ketiganya menyampaikan materi yang saling melengkapi dan relevan dengan proses pemulihan penyintas narkoba.
Dalam pemaparannya, Hamma menekankan bahwa setiap manusia dianugerahi tiga elemen penting sejak lahir, yakni akal budi atau pikiran, hati nurani, dan kehendak bebas. Ketiga elemen ini membedakan manusia dari ciptaan lain dan menjadikan manusia sebagai pribadi yang luhur. “Dengan akal budi, hati nurani, dan kehendak bebas, manusia mampu membedakan yang baik dan yang buruk, mampu berpikir kritis, serta bebas menentukan setiap keputusan dalam hidupnya,” ujarnya.
Sementara itu, Marulam menjelaskan tentang kekuatan pikiran manusia sebagai pusat kendali seluruh tindakan. Ia menerangkan bahwa otak manusia terdiri dari tiga bagian, yakni otak reptil, otak mamalia, dan otak primata. Otak reptil berperan dalam insting dasar seperti bertahan hidup dan reaksi spontan, otak mamalia mengendalikan emosi dan perasaan, sedangkan otak primata berfungsi dalam berpikir rasional, menganalisis, dan mengambil keputusan secara sadar. Ketiga bagian otak tersebut sama-sama penting, namun harus bekerja secara seimbang.
“Masalah muncul ketika otak reptil dan otak mamalia bekerja terlalu dominan tanpa dikendalikan oleh otak primata. Banyak orang jatuh dalam penyalahgunaan narkoba karena keputusan diambil berdasarkan dorongan insting dan emosi, sementara kemampuan berpikir rasional diabaikan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa proses pemulihan hanya dapat berjalan dengan baik apabila otak primata kembali dilatih untuk mengendalikan otak reptil dan otak mamalia.
Pada kesempatan yang sama, Leonhard Hutagalung memberikan motivasi kepada para penyintas dengan menegaskan bahwa masa depan mereka belum berakhir. Ia mengajak para peserta untuk tidak terjebak pada masa lalu, melainkan berani menatap masa depan dengan sikap yang lebih bertanggung jawab.
“Masa depan kalian belum habis. Namun, diperlukan kesungguhan dan komitmen untuk mempertimbangkan setiap keputusan dengan memaksimalkan kemampuan berpikir yang Tuhan anugerahkan,” ungkapnya.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka aktif mendengarkan, merefleksikan pengalaman hidup, serta menanggapi masukan yang disampaikan oleh para penyuluh. Suasana pembinaan berlangsung hangat, terbuka, dan penuh semangat pemulihan.
Secara keseluruhan, kegiatan motivasi dan pembinaan ini berjalan dengan lancar dan memberi dampak positif bagi para penyintas narkoba. Diharapkan, melalui pendampingan berkelanjutan, para peserta rehabilitasi semakin mampu mengelola pikiran, menata perilaku, dan kembali ke jati diri sebagai pribadi yang bermartabat serta siap membangun masa depan yang lebih baik.

