Penyuluh Agama Islam KUA Medan Baru Ikuti Simposium Ekoteologi FKUB Kota Medan

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Baru turut berpartisipasi dalam kegiatan Simposium Ekoteologi yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Medan. Kegiatan ini menjadi salah satu program strategis FKUB Kota Medan dalam memperkuat dialog lintas iman sekaligus memperkokoh kerukunan umat beragama di tengah masyarakat Kota Medan yang majemuk dan multikultural.

Simposium Ekoteologi tersebut diikuti oleh para pemuka agama dari berbagai majelis agama, tokoh masyarakat, serta pemuda lintas agama se-Kota Medan. Melalui forum dialog ini, FKUB Kota Medan berupaya membangun ruang perjumpaan yang sehat dan konstruktif antarumat beragama, sekaligus menanamkan kesadaran kolektif mengenai peran penting agama dalam menjaga keharmonisan sosial dan kelestarian lingkungan hidup.

Tema ekoteologi yang diangkat dalam simposium ini menyoroti perspektif keagamaan tentang hubungan manusia dengan alam. Para peserta diajak untuk memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian integral dari ajaran agama yang selaras dengan nilai-nilai spiritual, etika, dan kemanusiaan. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong peran aktif tokoh agama dan pemuda lintas agama dalam mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus menjaga kerukunan sosial.

Hadir sebagai narasumber, Mazda el-Muhtaz yang mewakili Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara menyampaikan pandangan akademis dan keagamaan mengenai ekoteologi dalam perspektif Islam. Ia menegaskan bahwa manusia memiliki peran sebagai khalifah di bumi yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam.
“Dalam ajaran Islam, manusia ditempatkan sebagai khalifah yang berkewajiban merawat alam, menjaga keseimbangannya, dan menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh makhluk,” jelasnya.

Sementara itu, Pendeta Erwin Tambunan selaku perwakilan dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Kota Medan menekankan bahwa nilai-nilai keagamaan sejatinya mengajarkan cinta kasih dan tanggung jawab moral terhadap sesama serta lingkungan.
“Semua agama mengajarkan kasih, kepedulian, dan tanggung jawab moral untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama, sekaligus merawat kerukunan antarumat beragama,” ujarnya. Narasumber lainnya, I Nyoman Sumantra dari Agama Hindu, juga menyoroti pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Baru, Damri Tambunan, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Simposium Ekoteologi FKUB Kota Medan. Ia menilai kegiatan ini sangat bermanfaat sebagai wadah silaturahmi dan penguatan komitmen bersama lintas agama.
“Kegiatan seperti ini sangat positif karena menjadi ruang dialog yang menyejukkan sekaligus memperkuat komitmen kita bersama dalam menjaga kerukunan umat beragama dan kelestarian lingkungan di Kota Medan,” ungkap Damri.

Damri Tambunan menambahkan bahwa dialog lintas agama yang dikemas secara edukatif dan reflektif dapat menjadi langkah preventif dalam menghadapi tantangan sosial, termasuk isu intoleransi dan kerusakan lingkungan. Ia berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan secara berkelanjutan.

Simposium Ekoteologi FKUB Kota Medan ini dilaksanakan di Hotel Madani, Kota Medan, pada 27 Desember 2025. Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan semangat kebersamaan, serta ditutup dengan komitmen bersama untuk terus merawat kerukunan umat beragama dan menjaga kelestarian lingkungan.

Melalui kegiatan ini, FKUB Kota Medan berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara tokoh agama, pemuda lintas agama, dan pemerintah dalam mewujudkan Kota Medan sebagai kota rukun, aman, damai, dan berkelanjutan, sejalan dengan semangat “Medan untuk Semua, Semua untuk Medan”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *