
Medan (Humas) — Penyuluh Agama Kristen Dameriana Siahaan, M.Th, melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (bimluh) tatap muka pada Selasa, (6/1/2026) bertempat di Panti Asuhan Terang Fajar, Jalan Simalingkar B, Kecamatan Medan Johor. Kegiatan tersebut diikuti oleh 17 anak panti beserta bapak dan ibu asuh, dan berlangsung selama kurang lebih 1 jam 45 menit.
Dalam kesempatan tersebut, Dameriana menjelaskan bahwa bimbingan dan penyuluhan tatap muka merupakan bagian dari tugas pokok dan fungsi (tusi) Penyuluh Agama Kristen sebagaimana diatur dalam undang-undang dan peraturan yang berlaku. Kegiatan bimluh dinilai memiliki nilai strategis dalam pembinaan umat sekaligus bernilai dalam Penilaian Angka Kredit (PAK).
“Beberapa tugas pokok dan fungsi Penyuluh Agama Kristen sesuai peraturan di antaranya adalah melakukan bimbingan dan penyuluhan tatap muka. Dalam kegiatan tersebut dapat ditangkap berbagai aktivitas lain yang juga memiliki nilai dalam Penilaian Angka Kredit,” jelas Dameriana.
Dameriana menyampaikan bahwa bimluh tatap muka dilaksanakan dalam bentuk kebaktian sederhana yang mencakup pujian, doa, pembacaan Firman Tuhan, serta pembahasan yang interaktif bersama anak-anak dan pengurus panti.
“Secara ringkas, kegiatan bimluh tatap muka itu adalah kebaktian, bernyanyi, berdoa, membaca Firman dan membahasnya bersama-sama,” ujarnya.
Pada kegiatan tersebut, Dameriana membawakan Seri Pengajaran Yesus Kristus dengan tema “Kotbah di Bukit”. Teks Firman yang dibahas diambil dari Injil Matius 6 ayat 33, yang menekankan pentingnya mengutamakan Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
“Teks Firman yang kita bahas dari Matius 6:33, ‘Carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu’. Ini merupakan bagian dari pengajaran Yesus Kristus dalam Kotbah di Bukit yang menegaskan bahwa kebenaran dan kebaikan sejati ada dalam ajaran Allah yang diterapkan oleh Yesus,” ungkap Dameriana.
Selain kebaktian, kegiatan tersebut juga diisi dengan pelaksanaan tugas lainnya berupa konseling kelompok dan pendekatan personal kepada anak-anak binaan. Menurut Dameriana, pendekatan awal sebelum ibadah sangat penting untuk membangun kedekatan emosional dan komunikasi yang baik.
“Sebelum kebaktian, penyuluh sebaiknya menyapa anak-anak binaan, berdiskusi, tanya jawab, mendengar cerita dan pikiran mereka. Jika waktunya singkat, penyuluh bisa mengajukan pertanyaan seputar kebutuhan, masalah, atau hal-hal menyenangkan, termasuk wawasan mereka tentang agama, budaya, dan media sosial,” jelas Dameriana.
Dalam bimluh tersebut, perhatian khusus juga diberikan kepada seorang anak panti bernama Rama, berusia sekitar 10–11 tahun, yang mengalami kebutaan pada mata kiri sejak usia tujuh tahun akibat tidak mendapatkan penanganan medis.
“Kami berdoa bersama-sama untuk Rama yang mengalami kebutaan pada mata kiri, agar Tuhan memberikan kesembuhan dan kekuatan,” tutur Dameriana.
Tidak hanya kepada anak-anak, kegiatan ini juga mempererat hubungan dengan bapak dan ibu asuh panti melalui diskusi terkait tantangan pengasuhan dan kebutuhan panti asuhan ke depan.
“Bapak dan ibu asuh meminta agar didoakan dan didukung, khususnya terkait pembayaran sewa rumah panti untuk tahun 2026 serta tantangan dalam mengasuh anak-anak,” tambah Dameriana.
Suasana kegiatan semakin penuh sukacita ketika secara tiba-tiba seorang donatur datang bersama tim dengan membawa berbagai kebutuhan pokok bagi panti asuhan.
“Suasana menjadi sangat bersukacita ketika donatur datang membawa beras, minyak, gula, jajanan, odol, sabun, dan kebutuhan lainnya yang mencukupi untuk kebutuhan selama satu bulan,” ungkap Dameriana.
Kegiatan bimbingan dan penyuluhan tatap muka tersebut diakhiri dengan doa penutup, foto bersama, serta saling bersalaman antara penyuluh, anak-anak, dan pengurus panti.
“Pertemuan tatap muka seperti ini dapat memuat banyak tugas pokok dan fungsi penyuluh, di samping kegiatan utama kebaktian,” pungkas Dameriana.

