Oleh : H. Ramlan, S.Ag. MA
(Ka. KUA Kec Medan Perjuangan Kementerian Agama Kota Medan)
Isra’ Mi’raj adalah peristiwa monumental yang menunjukkan kebesaran Allah Swt, dimana nabi Muhammad Saw melakukan perjalanan malam (Isra) dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha dan menerima langsung sholat lima waktu, sebagaimana firman Allah Swt: “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al Isra,17:1)
Sebelum peristiwa Isra Mikraj, Nabi Muhammad Saw ditinggal wafat pamannya, Abu Thalib, dan istrinya, Siti Khadijah. Meski saat itu merupakan tahun kesedihan bagi beliau, semangatnya untuk berdakwah tidakla surut. Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah, sebelum Rasulullah Saw hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer.
Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan “wisata” biasa bagi Rasul. Peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah sekaligus titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah Saw. Pendapat lain mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah Saw, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.
Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju sang pencipta (al-Khalik). Isra Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.
Salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mi’raj yakni ketika Rasulullah Saw “berjumpa” dengan Allah Swt. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah”; “Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja”. Allah Swt pun berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh”.
Selain itu, ada yang mengungkapkan bahwa Isra’ Mi’raj merupakan pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah Saw saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari salat yang dijalankan umat Islam sehari-hari. Dalam artian, salat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah Saw ini.
Peristiwa Isra Mi’raj terbagi dalam dua peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad Saw “diberangkatkan” oleh Allah Swt dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi’raj Nabi Muhammad Saw dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini, Nabi mendapat perintah langsung dari Allah Swt untuk menunaikan salat lima waktu.
Ada beberapa pertanyaan mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj. Salah satunya, mengapa dalam peristiwa itu Rasul diperjalankan ke Masjidil Aqsa? Kenapa tidak langsung saja ke langit? Paling tidak ada beberapa hal hikmahnya:
Pertama, Bahwa Nabi Muhammad adalah satu-satunya Nabi dari golongan Ibrahim AS yang berasal dari Ismail AS, sedangkan Nabi lainnya adalah berasal dari Ishaq AS. Hikmah lainnya adalah, bahwa Nabi Muhammad berdakwah di Makkah, sedangkan Nabi yang lain berdakwah di sekitar Palestina. Kalau dibiarkan saja, orang lain akan menuduh Muhammad Saw sebagai orang yang tidak ada hubungannya dengan “golongan” Ibrahim dan merupakan sempalan. Bagi kita sebagai muslim, tidaklah melihat orang itu dari asal usulnya, tapi dari ajarannya.
Kedua, Allah ingin memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Nabi Saw. Pada Al Qur’an surat An Najm ayat 12, terdapat kata “Yaro” dalam bahasa Arab yang artinya “menyaksikan langsung”. Berbeda dengan kata “Syahida”, yang berarti menyaksikan tapi tidak mesti secara langsung.
Allah memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya itu secara langsung, karena pada saat itu da’wah Nabi sedang pada masa sulit, penuh duka cita. Oleh karena itulah pada peristiwa tersebut Nabi Muhammad juga dipertemukan dengan para nabi sebelumnya, agar Muhammad Saw juga bisa melihat bahwa mereka pun mengalami masa-masa sulit, sehingga Nabi Saw bertambah motivasi dan semangatnya. Hal ini juga merupakan pelajaran bagi kita yang mengaku sebagai da’i, bahwa dalam kesulitan dakwah itu bukan berarti Allah tidak mendengar.
Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini.
Begitu monumentalnya peristiwa Isra’ Mi’raj ini, ada banyak hikmah yang harus kita ambil dari
Peristiwa besar ini diantaranya :
- Tingginya derajat hamba yang menyandarkan segala urusan kepada Allah Swt. Hal ini menjadi tanda bahwa hamba yang bertakwa memiliki derajat luhur di sisi Allah Swt.
- Sebelum peristiwa Isra Mikraj, Nabi Muhammad Saw ditinggal wafat pamannya, Abu Thalib, dan istrinya, Siti Khadijah. Meski saat itu merupakan tahun kesedihan bagi beliau, semangatnya untuk berdakwah tidak surut.
- Berani menyampaikan kebenaran meskipun hasilnya pahit. Saat Nabi Muhammad mengabarkan peristiwa Isra Mikraj pada penduduk Mekkah, banyak dari mereka yang tidak percaya. Sekalipun demikian, Rasulullah Saw tetap istiqomah menyampaikan perintah Allah Swt.
- Syariat yang dibawa Nabi Muhammad Saw telah menghapus syariat yang dibawa oleh para nabi terdahulu. Ketika Nabi Muhammad tiba di Masjidil Aqsa dalam perjalanan Isra dari Masjidil Haram, beliau menjadi imam salat bagi nabi-nabi terdahulu. Hal ini menjadi petunjuk jika syariatnya sudah menghapus syariat yang dibawa nabi-nabi sebelumnya.
- Masjidil Aqsa adalah tempat istimewa bagi umat Islam. Keterlibatan Masjidil Aqsa sebagai salah satu lokasi di peristiwa Isra Mi’raj menunjukkan masjid di Palestina ini punya kedudukan istimewa. Masjidil Aqsa juga pernah menjadi kiblat shalat pertama bagi umat Silam. Nabi Muhammad juga menganjurkan berpergian di tiga masjid yaitu Masjidil Haram, Masjidil Aqsa, dan Masjid Nabawi sebagaimana sabdanya: “… dan tidaklah (dianjurkan) untuk berpergian kecuali (untuk mengunjungi) tiga masjid: Masjid Al Haram, masjid Al Aqsha, dan masjidku (masjid Nabawi).” (HR Bukhari).
- Islam adalah agama suci. Saat Nabi Muhammad Saw berada di Sidratul Muntaha, malaikat Jibril menjamunya dengan minuman dari khamr dan susu. Nabi Muhammad lantas memilih susu, dan kemudian Jibril mengatakan: “Engkau telah diberi hadiah kesucian.”
- Shalat merupakan ibadah istimewa bagi umat Islam. Perintah shalat disampaikan langsung oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw dalam perjalanan Isra Mi’raj. Oleh sebab itu, ibadah itu mempunyai kedudukan sangat penting bagi umat Islam. Shalat bahkan menjadi amalan yang akan dihisab pertama kali di akhirat.
- Memantapkan keyakinan terkait adanya hal gaib. Selama peristiwa Isra Mikraj, Nabi Muhammad Saw diperlihatkan berbagai hal gaib seperti 7 lapis langit hingga Sidratul Muntaha (langit ketujuh dimana saat menjalankan Isra Miraj nabi Muhammad Saw bertemu dengan Allah Swt untuk diberikan perintah melaksanakan salat lima waktu.
Semoga bermanfaat wallahu a’lam bishowab.

