Penyuluh Agama Katolik Kemenag Kota Medan Gelar Siaran Dialog Iman di Radio Maria Medan

Medan (Humas) Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan menggelar siaran dialog iman bertema “Arti Harapan Menurut Pandangan Gereja Katolik: Dasar Biblis, Tradisi, dan Relevansinya bagi Indonesia” di Radio Maria Medan pada Kamis, 05 Februari 2026. Acara berlangsung di Gedung Catholic Centre Lantai 5, Jl. Mataram, Medan, Sumatera Utara, mulai pukul 12.30 WIB hingga selesai. Siaran ini dipandu host Ricardo Simamora, S.Ag., dan menghadirkan narasumber: Roni Antonius Sitanggang, S.Fil., Demaran Sigiro, S.Fil., Leonhard Hutagalang, S.S., serta Hekdi Jojada Sinaga, S.Fil. “Kami berharap dialog ini menjadi sarana pembinaan iman yang meneguhkan umat,” ujar Ricardo.

Dalam pemaparan awal, Roni Antonius Sitanggang menjelaskan dasar biblis tentang harapan dalam Perjanjian Lama. Ia menekankan bahwa harapan sejati tumbuh dari iman akan Allah yang setia. “Bangsa Israel mengajarkan kita bahwa harapan justru lahir di tengah penderitaan, sebab Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya,” ungkap Roni. Ia menegaskan bahwa kitab Mazmur dan seruan para nabi menunjukkan bahwa harapan bukan penghapusan pergumulan hidup, tetapi ajakan untuk tetap berpaut pada Tuhan.

Sesi berikutnya menghadirkan Demaran Sigiro yang menguraikan makna harapan dalam Perjanjian Baru. Menurutnya, kebangkitan Kristus merupakan puncak dan fondasi harapan kristiani. “Tanpa kebangkitan, harapan kita kosong. Kristus adalah sauh yang kuat bagi jiwa,” jelasnya. Demaran menambahkan bahwa harapan Kristen menuntut ketekunan, kesabaran, dan kesetiaan dalam menantikan pemenuhan janji Allah.

Melengkapi pemahaman rohani, Leonhard Hutagalung menjelaskan pandangan Tradisi Gereja mengenai harapan sebagai kebajikan teologal yang berjalan bersama iman dan kasih. “Harapan menjaga kita dari dua bahaya besar: keputusasaan dan keangkuhan. Ia menghidupkan iman dan menguatkan kasih,” kata Leonhard. Ia menekankan bahwa sejak awal sejarah Gereja, harapan dipahami sebagai sikap kerendahan hati yang sepenuhnya bersandar pada rahmat Allah.

Dalam sesi terakhir, Hekdi Jojada Sinaga mengulas ajaran Magisterium tentang harapan sebagaimana tercantum dalam Katekismus Gereja Katolik serta ensiklik Spe Salvi dan Fratelli Tutti. “Harapan Kristen tidak berhenti pada batin, tetapi harus menjadi kekuatan yang mengubah masyarakat melalui tindakan nyata,” tegas Hekdi. Ia menyoroti bahwa dunia modern sering mengandalkan harapan terbatas seperti kemajuan material, sementara harapan kristiani mengarah pada keselamatan kekal yang memberi makna bagi hidup saat ini.

Melalui siaran dialog iman yang digelar oleh Penyuluh Agama Katolik Kemenag Kota Medan ini, umat diajak untuk memandang tantangan bangsa Indonesia dengan kacamata iman dan harapan kristiani. Harapan yang berakar pada Kristus diharapkan membentuk umat menjadi pribadi yang setia, berbelarasa, dan aktif berkontribusi bagi kehidupan bersama yang lebih adil, bermartabat, dan penuh kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *