Medan (Humas) — Upaya pemulihan kesehatan mental peserta didik pascabencana terus diperkuat melalui Program Pendampingan Psikososial Berbasis Penguatan Kapasitas Guru Bimbingan dan Konseling (BK) jenjang MA, SMA, dan SMK yang dilaksanakan di SMA Negeri 2 Medan pada Jum’at, 13 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi mitigasi nonfisik untuk membantu siswa penyintas bencana pulih secara emosional dan kembali menjalani proses belajar dengan aman serta berkelanjutan.
Program pendampingan ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru BK dalam memberikan layanan trauma healing, melakukan asesmen psikososial, serta membangun ketangguhan sekolah. Dengan penguatan kapasitas tersebut, guru BK diharapkan mampu memfasilitasi lingkungan sekolah sebagai ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan perasaan, mengelola emosi, dan memulihkan kesehatan mental secara bertahap. Langkah ini dinilai penting agar sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai pusat pemulihan pascabencana.
Ketua MGBK SMA Sumut, Ramadhanisyah, menegaskan bahwa penguatan psikososial bagi guru BK merupakan kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya kerentanan psikologis siswa. “Guru BK berada di garda terdepan dalam pendampingan pascabencana. Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan para guru memiliki keterampilan yang memadai untuk membantu siswa bangkit dan kembali merasa aman di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber nasional dari Bandung, Siti Kulsum, selaku Ketua MGBK Nasional. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya pendekatan berkelanjutan dalam pemulihan psikologis. “Trauma tidak selalu tampak secara kasat mata, sehingga guru BK perlu dibekali kemampuan memahami respons psikologis siswa dan membangun relasi yang empatik agar proses pemulihan berjalan optimal,” tuturnya.
Sementara itu, Fasilitator Provinsi BK/MA Sumatera Utara, Naila Amna, menyoroti pentingnya ketahanan pendidik dalam proses pendampingan. “Penguatan kapasitas ini tidak hanya berfokus pada pemulihan siswa, tetapi juga pada pengelolaan stres guru BK. Guru yang sehat secara mental akan lebih efektif dalam mendampingi siswa dan membangun ketangguhan sekolah,” katanya.
Pendampingan ini turut didukung para fasilitator provinsi lainnya, yakni Dr. Khairani Nasution, M.Pd., serta Marimbun, M.Pd., yang secara aktif membersamai peserta selama sesi luring dan daring. Peserta berasal dari guru BK MA Sumatera Utara—di antaranya MAN 1 dan MAN 2 Medan, Deli Serdang, dan Langkat—serta guru BK SMA dan SMK dari Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Pelaksanaan secara hybrid memungkinkan jangkauan pendampingan yang lebih luas dan inklusif.
Kegiatan ini terselenggara dengan dukungan sponsor dari Universitas Logistik dan Bisnis Internasional (ULBI). Melalui kolaborasi fasilitator nasional dan provinsi bersama MGBK SMA dan SMK Sumatera Utara, program ini diharapkan mampu memperkuat sinergi lintas pemangku kepentingan dalam mewujudkan sekolah yang tangguh, adaptif, dan siap bangkit pascabencana.

