Dampak Kekerasan di Masyarakat Dan cara Penanganannya

Medan (Humas) Kekerasan dalam masyarakat, baik yang terjadi dalam rumah tangga maupun yang menimpa anak di lingkungan sosial—masih menjadi persoalan serius yang menimbulkan dampak psikologis jangka panjang. Menurut Nurasiah Yusuf, S.Ag., M.Si, Penyuluh Agama Islam Kec. Medan Maimun Kementerian Agama Kota Medan dan konselor keluarga, pola kekerasan yang berulang telah memunculkan kondisi traumatik yang sulit dipulihkan tanpa penanganan menyeluruh.

“Kekerasan tidak hanya mencederai tubuh, tetapi merusak cara seseorang memandang dirinya dan dunia di sekitarnya. Trauma psikologis adalah dampak paling besar dan paling lama bertahan,” jelas Nurasiah dalam acara Penyuluhan PKK Kec. Medan Maimun – Kota Medan, Rabu, 19 November 2025 di Aula Kelurahan Hamdan Medan Maimun.

Dampak Psikologis pada Korban Kekerasan Rumah Tangga

Nurasiah menjelaskan bahwa korban kekerasan rumah tangga umumnya menunjukkan gejala kecemasan, depresi, rasa tidak aman, hingga ketidakmampuan membuat keputusan. Kondisi ini terjadi karena korban hidup dalam lingkar kekerasan yang terus berulang.

“Korban sering merasa tidak berharga karena terus disalahkan dan dikontrol. Ini berdampak pada hilangnya identitas dan kepercayaan diri,” ujarnya.

Selain itu, korban mengalami trauma kompleks (complex trauma) akibat kekerasan jangka panjang, yang memicu gangguan tidur, mimpi buruk, hingga perilaku menghindar. Mereka juga mudah terpicu oleh situasi yang mengingatkan pada kekerasan masa lalu.

Anak Menghadapi Beban Trauma Ganda

Kekerasan terhadap anak, baik sebagai korban langsung maupun saksi kekerasan dalam keluarga, menimbulkan konsekuensi psikologis yang lebih luas.

“Anak yang sering menyaksikan kekerasan belajar bahwa agresi adalah cara menyelesaikan masalah,” kata Nurasiah.

Menurutnya, anak dapat tumbuh menjadi pelaku kekerasan atau justru sangat pasif dan takut bersuara. Pada beberapa kasus, anak mengalami kecemasan sosial, gangguan perilaku, penurunan prestasi, hingga kesulitan membentuk hubungan emosional yang sehat.

Lingkungan masyarakat yang permisif terhadap kekerasan, seperti perundungan (bullying), eksploitasi anak, atau kekerasan yang dibenarkan atas dasar ‘pendidikan’, juga memperburuk kondisi psikologis anak.

“Anak bisa kehilangan rasa aman di ruang publik maupun di rumah,” tambahnya.

Hambatan Melaporkan Kekerasan Masih Tinggi

Menurut Nurasiah, banyak korban Dewasa dan anak tidak melaporkan kekerasan karena takut, malu, atau tidak tahu kemana harus meminta bantuan. Tekanan sosial seperti anggapan bahwa urusan keluarga tidak boleh dibawa keluar ikut memperpanjang siklus kekerasan.

“Selama masyarakat masih menormalisasi kekerasan, korban akan tetap diam. Padahal diam justru menambah luka psikologis yang lebih dalam,” tegasnya.

Penanganan Psikologis Harus Komprehensif

Nurasiah menegaskan bahwa proses pemulihan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan tunggal. Ada beberapa langkah penting yang harus dilakukan:

1. Menjamin keamanan korban, termasuk pendampingan hukum atau penempatan di rumah aman.

2. Terapi trauma, seperti konseling individual dan terapi perilaku kognitif untuk mengolah emosi, memulihkan kepercayaan diri, serta memutus pola hubungan toksik.

3. Pendampingan keluarga, terutama bagi anak yang mengalami atau menyaksikan kekerasan.

4. Pemberdayaan ekonomi dan sosial, yang membantu korban dewasa menjadi mandiri dan tidak kembali bergantung pada pelaku.

5. Intervensi berbasis masyarakat, seperti pelatihan pengasuhan positif, edukasi anti-kekerasan, dan kampanye pencegahan.

“Pemulihan psikologis membutuhkan waktu panjang dan dukungan berlapis. Kita tidak bisa menyerahkan beban pemulihan hanya kepada korban,” ujar Nurasiah.

Ajak Masyarakat Lebih Peka dan Berani Bertindak

Di akhir paparannya, Nurasiah menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam memutus rantai kekerasan. Ia berharap setiap individu berani menolong atau melapor ketika mengetahui adanya tindakan kekerasan, terutama terhadap anak.

“Kekerasan bukan urusan privat. Ini masalah kemanusiaan. Siapapun bisa menjadi korban jika kita membiarkan budaya kekerasan terus berkembang,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pencegahan kekerasan harus dimulai dari keluarga, sekolah, hingga lingkungan sosial. “Ketika masyarakat peduli, korban akan merasa aman dan berani mencari pertolongan. Itu langkah pertama menuju pemulihan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *