“Marhaban Ya Ramadan” sebuah ungkapan yang sangat familiar bahkan menjadi syair lagu yang indah didengar dari anak-anak sampai orang dewasa, tak hanya viral di Indonesia menjelang Ramadan, bahkan kalimat ini menjadi highlight saat ribuan ummat muslim di Times Square Manhattan New York City (NYC) berkumpul untuk menunaikan sholat Tarawih, “Marhaban Ya Ramadan! May this blessed month bring peace, joy and countless blessings to you and your loved ones (“Marhaban Ya Ramadan! Semoga bulan yang penuh berkah ini membawa kedamaian, kegembiraan, dan berkah yang tak terhitung jumlahnya bagi Anda dan orang-orang terkasih.”)
Kata marhaban dalam bahasa Arab merupakan kata seru untuk menyambut tamu dengan penuh penghormatan. M. Quraish Shihab dalam berbagai kajiannya tentang bahasa Al-Qur’an, kata marhaban berasal dari akar kata rahb atau rahab yang bermakna luas atau lapang. Artinya, tamu yang datang disambut dengan kelapangan dada dan kegembiraan.
Dalam buku Lentera Hati karya Quraish Shihab, dijelaskan bahwa menyambut Ramadan dengan “Marhaban” mencerminkan kesiapan batin dan keluasan hati untuk menerima perubahan diri selama bulan suci. Secara spiritual, ucapan ini selaras dengan firman Allah Swt:: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.(QS.Albaqarah,2:185)
Ayat ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah tamu istimewa karena di dalamnya Al-Qur’an diturunkan. Maka menyambutnya dengan “Marhaban” memiliki makna simbolis yang kuat dan indah.
Oleh sebab itu ketika kita mengucapkan “Marhaban Ya Ramadan” maka hakikatnya kita siap melakukan hal berikut agar ibadah yang kita kerjakan selama Ramadan memiliki nilai sama kuat dan indahnya dengan ungkapan tersebut.
Pertama :
Dalam bulan Ramadhan diwajibkan melaksanakan ibadah puasa, maka puasa yang dikerjakan hendaklah harus betul-betul dengan kondisi lahir dan batin, jangan sampai puasa itu hanya mengubah jadwal makan dan minum saja secara lahir tetapi tidak mengubah perilaku makan dan minum kita yang dimestikan untuk tetap tidak boleh israf (melampaui batas). Lebih dari sekedar menahan lapar dan haus, puasa secara batin dapat menghasilkan perilaku yang jujur. Tidak hanya jujur di muka, namun jujur di mana saja berada, bahkan dalam kondisi yang jauh. Puasa yang menghasilkan kejujuran dikala di rumah lebih-lebih di luar rumah itulah wujud sebenarnya puasa yang lahir dan batin. Allah Swt berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh ia telah meraih kemenangan yang agung.”(QS. Al Ahzab,33:70-71).
Rasulullah Saw juga bersabda: “Siapa yang berpuasa karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari)
Orang yang melaksanakan puasa secara lahir dan batin sesungguhnya sedang berusaha menerima perubahan serta membangun kejujuran didalam dirinya, yang mana kejujuran itu yang akan membawa dirinya meraih kesuksesan yang besar di dunia dan di akhirat.
Kedua :
Semangat melaksanakan qiyamul lail (sholat tarawih, tahajud), karena itu rutinkanlah qiyamul selama Ramadhan karena dengan melaksanakan qiyamul lail menjadikan diri kita orang-orang yang memperoleh kemuliaan dalam hidup, firman Allah Swt: “Pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra’, 17:79)
Orang yang aktif melaksanakan qiyamul lail selama Ramadan dan diluar Ramadan, maka sesungguhnya dia sedang menghayati ungkapan “Marhaban Ya Ramadan” dan berusaha meraih kemuliaan dalam hidup dibulan yang berkah.
Ketiga :
Komitmen tadarus Alquran dan mempelajari al-Qur’an serta berusaha memahami maksudnya dan mempraktekkan dalam hidup. Al-Qur’an yang diturunkan Allah Swt pada bulan Ramadan harus jadi petunjuk mana yang benar dan yang salah, orang yang berusaha memahami al-Quran dan mempratekkan al-Quran dalam hidupnya sesungguhnya sedang berupaya mendapatkan rahmat dari Alquran sebagaimana firman Allah Swt: “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar/obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra’,17’: 82).
Karena itu istiqomahkan untuk selalu tadarus Qur’an sepanjang Ramadan dan memahami maknanya serta mempraktekannya dalam kehidupan.
Keempat:
Jadikan bulan Ramadan bulan beramal dan bersedekah. Sebagaimana firman Allah Swt: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui.” (QS: Al-Baqarah, 2: 261)
Rasulullah Saw juga memberi rambu-rambu bahwa sedekah yang paling afdal adalah sedekah dibulan Ramadan. “Dari Anas RA, sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan.’” (HR At-Tirmidzi).
Karena itu berusahalah untuk menyisihkan sebagaian rezeki yang kita miliki kepada mereka yang membutuhkan, sebagai wujud bahwa kita benar-benar mengharap rahmat dibulan yang penuh berkah.
Kelima:
Jadikan Ramadan sebagai wasilah untuk Saling menjaga persatuan dan kesatuan sebagai wujud mencintai bangsa dan negara. sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Dari Anas Ra, dari Nabi, beliau bersabda, “Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri“. (HR. Bukhari dan Muslim), Hadits ini menggambarkan bahwa Perbedaan paham, agama, ras, suku, bahkan politik jangan sampai menghilangkan rasa cinta kita kepada sesama. Maka orang mukmin harus mencintai sesamanya dalam keragamaan dengan tulus.
Mari kita jadikan kehadiran Ramadan tahun ini sebagai Ramadan yang terbaik didalam kehidupan kita.
Semoga dengan memahami makna dan hakikat ungkapan “Marhaban Ya Ramadan” yang sering diucapkan saat memasuki bulan Ramadan, dapat memotivasi kita untuk memaksimalkan rangkaian ibadah yang dikerjakan sepanjang Ramadan sehingga dapat mengantarkan kita meraih hadiah taqwa dari tamu agung Ramadan yang penuh berkah, Insya Allah.
Wallahua’lam bisshowwab.
Ramlan, S.Ag. MA
Ka. Kua Kec. Medan Perjuangan

