Medan (Humas) Kementerian Agama Kota Medan melalui para penyuluh agama kembali melaksanakan pelayanan rohani bagi para orang tua lanjut usia di Panti Jompo Yayasan Guna Budi Bakti, Medan Labuhan, Kota Medan pada Rabu (10/12/2025). Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh persaudaraan ini dihadiri sekitar 30 orang tua yang mengikuti pembinaan dengan antusias. Kegiatan ini menjadi wujud kepedulian pemerintah dalam menghadirkan pelayanan kerohanian yang meneguhkan bagi warga lanjut usia.
Pelayanan rohani bagi orang tua lanjut usia di panti jompo ini dilakukan secara kolaboratif oleh Penyuluh Agama Katolik dan Penyuluh Agama Kristen dari Kementerian Agama Kota Medan. Kolaborasi ini menunjukkan semangat kebersamaan lintas agama dalam melayani masyarakat secara inklusif. Materi pembinaan disampaikan oleh Marulam Nainggolan, S.S., Penyuluh Agama Katolik, bersama Demaran Sigiro, S.Fil., Maruli Siburian, S.Th., Tiurma Butarbutar, S.Th, Natalina Hutagalung, S.Th, dan Lukas Siburian.
Dalam renungannya, Marulam Nainggolan menyoroti realitas hidup manusia yang kerap tidak terlepas dari beban, terlebih bagi mereka yang telah memasuki usia lanjut. Bahkan sekalipun secara naluriah selalu menghindar, faktanya manusia tidak pernah terbebas dari beban.
Penurunan kesehatan dan melemahnya fisik sering kali memunculkan rasa kurang bersemangat, bahkan rasa putus asa. Untuk itu, para penyuluh mengajak peserta melihat kembali makna hidup melalui terang iman yang memberi kekuatan.
Mengambil inspirasi dari sabda Yesus dalam Matius 11:28-30, para penyuluh mengingatkan undangan Tuhan yang penuh penghiburan: “Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, dan Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Pesan ini ditegaskan sebagai ajakan untuk tidak memikul beban hidup sendirian, melainkan dalam kebersamaan dengan Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati. Dengan bersandar kepada-Nya, setiap pergumulan hidup tentu akan menjadi lebih ringan dijalani.
Para penyuluh menekankan bahwa menghadapi persoalan hidup dengan hati yang keras, sikap reaktif, atau kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah. Pembicara memberikan contoh seorang pemain sepakbola yang marah saat ditekel di lapangan akan mendapat kartu merah. Sebaliknya, sikap lemah lembut dan rendah hati justru membuka pintu keluar. Kepribadian seperti ini menuntun seseorang untuk menerima keadaan dengan bijaksana dan tetap menemukan kesejukan batin meski dalam keterbatasan.
Selain itu, para orang tua yang rata-rata memiliki kelemahaman fisik diingatkan bahwa tantangan hidup tidak sepatutnya dihindari. Cara terbaik mengatasi persoalan adalah menghadapinya dengan iman yang teguh dan menyelesaikannya. Melarikan diri dari kenyataan hidup yang berat dan mencari solusi instan atau jalan pintas akan menambah soal. Namun, ketika seseorang memiliki kelemahlembatan dan kerendahhatian, pikiran akan lebih tenang dan kekuatan baru akan muncul untuk menyelesaikan masalah.
Pelayanan ini berjalan dengan lancar dan memberi kesan mendalam bagi para orang tua lanjut usia yang hadir. Mereka merasa diteguhkan serta dikuatkan untuk tetap optimistis menjalani hidup meski ditandai dengan berbagai keterbatasan. Pembinaan ini memperbarui harapan mereka dan meneguhkan keyakinan bahwa Tuhan selalu menyertai mereka dalam setiap langkah hidup, apa pun situasinya. Sebab, bagi mereka yang percaya akan penyelenggaraan ilahi, pengharapan tidak akan pernah mengecewakan.

