Pencerahan Melalui Bimluh, Penyuluh Agama Medan Kota Bahas Hikmah dan Etika Menghadapi Bencana di RRI Medan

Medan (Humas) — Dua orang Penyuluh Agama Islam dari KUA Medan Kota, yakni Tgk. M. Nizamuddin, S.Ag., SH., M.Pd. dan Muhammad Arsyad, S.HI., mengisi siaran udara Bimbingan dan Penyuluhan (Bingluh) di Studio RRI Medan, Kamis (18/12/2025). Kegiatan ini mengusung tema “Pencerahan Melalui Bingluh oleh Penyuluh Agama Medan Kota di RRI Medan” sebagai upaya memberikan edukasi keagamaan kepada masyarakat luas melalui media radio 📡.

Dalam siaran tersebut, kedua penyuluh sepakat mengangkat tema besar tentang kebencanaan dari sudut pandang keislaman. Tgk. M. Nizamuddin menyampaikan materi “Hikmah di Balik Bencana”, sementara Muhammad Arsyad membahas “Etika Menghadapi Bencana”, yang disampaikan secara bergantian dan saling melengkapi.

Mengawali penyampaiannya, Tgk. M. Nizamuddin menekankan bahwa bencana sejatinya menjadi sarana muhasabah bagi manusia dalam memperlakukan alam. Ia mengajak masyarakat untuk mengevaluasi sejauh mana kepedulian terhadap lingkungan, khususnya hutan dan daerah aliran sungai.

“Bencana mengajak manusia untuk bermuhasabah, sudah sejauh mana kita hidup berdampingan dengan alam. Jika banyak kerusakan yang dilakukan manusia, maka segeralah bertaubat kepada Allah SWT dan lakukan perbaikan serta pelestarian lingkungan secara nyata,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya peran amar ma’ruf nahi mungkar dalam menjaga alam. Menurutnya, kepedulian lingkungan tidak cukup hanya dengan wacana, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan bersama.

“Kita harus mencegah penebangan liar, menolak alih fungsi hutan yang merusak, serta menghindari pembangunan di sepanjang daerah aliran sungai. Semua ini perlu dilakukan secara kolektif demi keselamatan bersama,” tambahnya.

Lebih lanjut, Tgk. Nizamuddin menjelaskan bahwa bencana juga menjadi pengingat agar manusia semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketetapan Allah berupa musibah dapat terjadi kapan saja dan sering kali datang sebagai peringatan atas kelalaian manusia.

“Bencana mengingatkan kita bahwa taqdir Allah bisa datang kapan saja. Karena itu, manusia harus memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama, serta lebih peduli terhadap amanah menjaga bumi,” tuturnya.

Sementara itu, Muhammad Arsyad dalam materinya menekankan pentingnya etika menghadapi bencana, baik sebelum, saat, maupun setelah musibah terjadi. Ia mengajak masyarakat untuk tetap tenang, saling tolong-menolong, serta tidak menyebarkan informasi yang menyesatkan.

“Dalam menghadapi bencana, umat Islam diajarkan untuk bersabar, saling membantu, dan tidak saling menyalahkan. Justru di saat inilah nilai kemanusiaan dan solidaritas harus diperkuat,” jelasnya.

Melalui siaran Bingluh ini, para penyuluh berharap masyarakat mendapatkan pencerahan spiritual sekaligus kesadaran sosial dan lingkungan. Kegiatan ini menjadi bukti nyata kehadiran penyuluh agama di ruang publik, memberikan edukasi yang relevan dan menyejukkan melalui media radio.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *