Medan (Humas) Penyelenggara Katolik Kota Medan mulai menjalin sinergi nyata dengan Paroki Santo Fransiskus Xaverius Simalingkar B, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan. Kerja sama tersebut diwujudkan melalui kegiatan pendampingan bagi calon Pelayan Luar Biasa Komuni Suci (PLBKS). Pertemuan pertama dari rangkaian delapan sesi pendampingan dilaksanakan pada Senin (9/3/2026).
Bertempat di ruang pertemuan paroki, Penyuluh Agama Katolik Kota Medan, Marulam Nainggolan, S.S., menyampaikan materi tentang Sakramen Ekaristi kepada para peserta. Dalam pemaparannya, ia menyoroti tiga pokok penting, yaitu Ekaristi sebagai sakramen, Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup Kristiani, serta Ekaristi sebagai perayaan surgawi yang dihadirkan di bumi.
Pada bagian pertama, Marulam menegaskan bahwa Ekaristi merupakan sakramen keselamatan yang paling hakiki dan paripurna dalam Gereja Katolik, karena di dalamnya Kristus sendiri hadir secara nyata. “Dalam Ekaristi, Kristus sungguh hadir secara nyata (real presence). Kehadiran itu bukan sekadar simbol, tetapi benar-benar Tubuh dan Darah Kristus sebagaimana dikatakan-Nya sendiri: ‘Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu… inilah darah-Ku’,” jelas Marulam.
Pernyataan tersebut merujuk pada sabda Yesus dalam Perjamuan Malam Terakhir (Luk 22:19-20; Mat 26:26-28; Mrk 14:22-24; 1Kor 11:23-25). Gereja juga menegaskan bahwa dalam Sakramen Ekaristi, Yesus Kristus hadir secara nyata, sungguh dan substansial dalam rupa roti dan anggur (KGK 1374; Konsili Trente).
Pada bagian kedua, Marulam menjelaskan bahwa Ekaristi merupakan sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani. “Seluruh kehidupan iman umat Katolik mengalir dari Ekaristi dan kembali kepada Ekaristi. Dari altar kita menerima kekuatan rohani, dan dari sana pula kita diutus untuk menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ajaran ini sejalan dengan penegasan Gereja bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani (Lumen Gentium 11; KGK 1324). Dalam Ekaristi, umat beriman dipersatukan dengan Kristus yang memberikan diri-Nya sebagai santapan rohani bagi keselamatan manusia (Yoh 6:51-56).
Pada bagian ketiga, para calon PLBKS diajak memahami bahwa perayaan Ekaristi di dunia merupakan gambaran dan partisipasi dalam liturgi surgawi. “Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita sebenarnya ikut ambil bagian dalam perayaan surgawi bersama para malaikat dan para kudus di surga,” ungkap Marulam.
Gambaran ini sesuai dengan kesaksian Kitab Wahyu tentang liturgi surgawi di hadapan Takhta Allah (Why 4:8-11; Why 5:11-14). Gereja juga mengajarkan bahwa dalam Ekaristi terjadi persekutuan seluruh Gereja: Gereja yang berziarah di dunia, Gereja yang dimurnikan di api penyucian, dan Gereja yang telah berjaya di surga (KGK 954; KGK 1370).
Sebanyak 10 orang calon PLBKS mengikuti pertemuan tersebut, yang terdiri dari kaum awam dan seorang biarawati. Para peserta tampak antusias mengikuti seluruh sesi pembinaan. Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa materi yang disampaikan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang Sakramen Ekaristi. “Kami semakin menyadari bahwa tugas sebagai pelayan Komuni Kudus bukan hanya tugas liturgis, tetapi juga panggilan untuk hidup semakin dekat dengan Kristus yang kami layani dalam Ekaristi,” ungkapnya.
Pendampingan ini diharapkan dapat membantu para calon PLBKS memahami secara lebih mendalam makna Sakramen Ekaristi, sehingga mereka dapat menjalankan pelayanan dengan penuh iman, tanggung jawab, dan kesadaran rohani sebagai pelayan umat Allah.

