Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan Bahas Tiga Hal Menyelamatkan Manusia di Radio Aqila 102,6 FM

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Medan tampil on air dalam program Kajian Tausyiah Aqila di Radio Aqila 102,6 FM Medan pada Jumat (7/11). Kegiatan bimbingan penyuluhan berbasis IT ini mengangkat materi bertema Tiga Hal yang Dapat Menyelamatkan Manusia.

Acara dibuka oleh pembawa acara, Meta, dengan rangkaian lagu-lagu islami sebelum dilanjutkan penyampaian materi oleh Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan, Suriadi, S.Ag. Dalam ceramahnya, Suriadi menyampaikan hadits yang menjelaskan tiga hal yang dapat menyelamatkan manusia, yaitu takut kepada Allah SWT baik saat sendiri maupun bersama orang lain, bersikap ekonomis atau hemat ketika miskin maupun kaya, serta berlaku adil baik saat ridho maupun saat marah.

Menurut Suriadi, rasa takut kepada Allah akan menjaga seseorang dari perbuatan dosa. Rasa takut ini berperan sebagai pengingat internal yang membuat seseorang menahan diri dari perbuatan tercela dan senantiasa berusaha berbuat baik. “Seorang ulama, Fudhail bin Iyad RA, berkata, ‘Rasa takut kepada Allah selamanya akan membawa kepada kebaikan.’ Jika seseorang tidak memiliki rasa takut, ia cenderung menganggap ringan dosa dan kemaksiatan,” jelasnya.

Selain itu, sikap ekonomis atau hemat, baik dalam keadaan miskin maupun kaya, akan menyelamatkan seseorang dari sifat boros maupun kikir. Sedangkan berlaku adil dalam setiap keadaan, baik ketika senang maupun marah, membuat seseorang terhindar dari perilaku tercela. Untuk menegaskan pentingnya hal-hal ini, Suriadi menyampaikan contoh dari hadits sahabat Rasulullah, Uqbah bin Amir RA, yang menanyakan jalan keselamatan kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menjelaskan bahwa keselamatan tidak hanya ditentukan oleh ibadah yang terlihat, tetapi juga oleh sikap hati dan pengendalian diri, termasuk menjaga lisan dan perilaku sehari-hari. Nabi Muhammad SAW menjawab, “Jagalah lidahmu dan tinggallah di rumahmu sambil menangis menyesali dosa-dosa.”

Pemateri menutup kajian dengan hadits lain, “Tafakkaru saa’atin khoiru min ‘ibaadati sanatin”, yang artinya merenungi atau berpikir satu jam lebih baik daripada ibadah selama satu tahun.

Setelah penyampaian materi, sesi tanya jawab dibuka dan mendapat antusiasme tinggi dari pendengar. Namun, keterbatasan waktu menjelang adzan Magrib membuat acara akhirnya ditutup oleh pembawa acara.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Kemenag Kota Medan dalam menghadirkan bimbingan agama yang mudah diakses melalui media digital, sehingga masyarakat tetap bisa mendapatkan edukasi keagamaan secara interaktif dan praktis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *