Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Baru, Syahmuda Nasution, S.Ag., kembali melaksanakan kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan bersama Majelis Taklim Nurul Iman Kelurahan Babura. Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh perhatian tersebut mengangkat tema yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, yakni “Sikap Orang Beriman Saat Menghadapi Bencana.”
Dalam penyampaiannya, Syahmuda menegaskan bahwa setiap musibah yang terjadi merupakan bagian dari ketentuan Allah SWT dan ujian untuk menguatkan kualitas keimanan seorang hamba. Ia menjelaskan bahwa seorang mukmin harus memiliki kesiapan mental dan spiritual ketika dihadapkan pada bencana yang datang secara tiba-tiba.
“Setiap ujian hadir bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menguatkan. Musibah adalah cara Allah mendidik kita agar semakin dekat dan bergantung kepada-Nya,” ujarnya.
Syahmuda menjelaskan bahwa ada dua sikap utama yang harus dimiliki seorang mukmin saat menghadapi bencana. Pertama adalah sabar. Ia menuturkan bahwa kesabaran menjadi pondasi penting agar seseorang tetap tenang, tidak larut dalam kepanikan, dan mampu melihat hikmah di balik peristiwa yang dialami. “Dengan sabar, hati menjadi lebih lapang dan pikiran lebih jernih. Dari situlah jalan keluar sering kali muncul,” jelasnya.
Sikap kedua adalah memantapkan keyakinan dan bertawakkal kepada Allah SWT dengan mengucapkan kalimat istirja’. Ia mengingatkan jamaah bahwa kalimat ‘Innaa Lillahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun’ bukan hanya rangkaian kata, melainkan pernyataan penuh kepasrahan kepada Allah.
“Melalui istirja’, kita menyadari bahwa semua yang kita miliki adalah titipan dan akan kembali kepada Allah. Dari keyakinan itu tumbuh kekuatan untuk menerima takdir dan bertawakkal sepenuhnya,” tambahnya.
Kegiatan penyuluhan ini disambut antusias oleh para jamaah. Mereka aktif berdiskusi dan bertanya mengenai cara menjaga ketenangan hati, memperkuat iman, serta menghadapi situasi darurat secara bijak. Interaksi yang terbangun menunjukkan tingginya minat jamaah untuk memahami nilai-nilai spiritual dalam menghadapi bencana.
Syahmuda berharap materi ini dapat menjadi pengingat bagi jamaah agar memaknai bencana tidak hanya sebagai peristiwa fisik semata, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan sikap sabar, keyakinan yang kokoh, dan tawakkal yang benar, umat Islam diharapkan mampu menghadapi setiap cobaan dengan keteguhan hati.
“Jika iman menjadi sandaran utama, maka setiap musibah dapat dilalui dengan lebih kuat dan bijaksana,” tutupnya.

