Medan (Humas). Dalam momentum refleksi setelah peringatan Hari Guru Nasional yang baru saja berlalu, Kantor Kementerian Agama Kota Medan menggelar Podcast OPKM dengan tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat: Peran Guru Agama Katolik Menuju Indonesia Emas 2045.” Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 01 Desember 2025 pukul 14.00 WIB di Aula Kemenag Kota Medan, Jl. Sei Batugingging No. 12 Medan, dipandu langsung oleh Penyuluh Agama Katolik Kota Medan, Marulam Nainggolan, S.S. “Podcast ini menjadi ruang refleksi untuk memperkuat pelayanan iman sekaligus menghargai peran guru setelah Hari Guru kemarin,” ujarnya saat membuka acara.
Sesi awal menghadirkan Indra Harapan Tarigan, S.S., Guru Pendidikan Agama Katolik tingkat SD. Dalam paparannya, Indra menekankan pentingnya keselarasan antara ajaran dan tindakan seorang pendidik. “Guru Katolik harus menjadi teladan, tidak hanya mengajarkan kasih tetapi juga mewujudkannya dalam hidup sehari-hari,” tegasnya. Ia mengaitkan pesan ini dengan makna Hari Guru, di mana guru dipanggil untuk menjadi figur integritas bagi murid dan masyarakat.
Narasumber kedua, Romenti Sihombing, S.Ag., Guru Pendidikan Agama Katolik tingkat SMP, mengungkapkan bahwa momentum setelah Hari Guru Nasional menjadi saat yang tepat bagi guru untuk kembali menegaskan komitmen pengabdian. “Guru Agama Katolik membantu siswa mengenal Yesus dan membangun karakter Kristiani. Setelah Hari Guru, kita diingatkan untuk terus menjaga panggilan ini,” ucapnya. Ia menekankan bahwa guru tidak hanya mengajar, tetapi membentuk kepribadian secara utuh.
Selanjutnya, Oscar Rafael Tampubolon, S.S., Guru Pendidikan Agama Katolik tingkat SMA, menguraikan tantangan guru pada era digital yang semakin kuat terasa pasca Hari Guru. “Tantangan semakin kompleks keberagaman siswa, teknologi, dan perubahan kurikulum. Tapi justru di situlah guru hebat diuji,” jelas Oscar. Ia menambahkan bahwa guru masa kini perlu mampu menyatukan nilai iman dengan dinamika zaman agar tetap relevan.
Narasumber terakhir, Nirwana Tarigan, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Katolik tingkat SMK, memaparkan cara menjadi guru berintegritas dalam konteks pembelajaran modern. “Doa harus menjadi fondasi setiap pengajaran,” ujar Nirwana. Ia juga mendorong penggunaan metode kreatif seperti roleplay, renungan, hingga lagu rohani agar pembelajaran tetap hidup dan menyentuh hati siswa. Momentum setelah Hari Guru, menurutnya, harus menjadi dorongan untuk terus memperbarui diri.
Pada sesi penutup, semua narasumber memberikan pesan bagi guru untuk terus melayani dengan cinta. Indra menekankan keteladanan, Romenti menegaskan pendampingan iman, Oscar mengajak guru beradaptasi, dan Nirwana menekankan kreativitas rohani. Host Marulam menutup acara dengan pernyataan penuh makna: “Guru Katolik hebat bukan yang serba bisa, tetapi yang melayani dengan cinta. Pasca Hari Guru ini, kita diingatkan kembali bahwa guru adalah alat kasih Allah di sekolah.” Kegiatan ini diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi seluruh Guru Agama Katolik dalam membangun Indonesia Emas 2045.

