Penyuluh Agama Katolik Kemenag Medan Selenggarakan Podcast OPKM Bahas Makna Rabu Abu

Medan (Humas). Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Medan menyelenggarakan Podcast OPKM bertajuk “Rabu Abu: Debu yang Menghidupkan” pada Jumat (13/02/2026) di Kantor Kementerian Agama Kota Medan, Jl. Sei Batu Gingging Ps. X No.12, Merdeka, Kec. Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara. Podcast berdurasi 15–20 menit tersebut dipandu oleh Host sekaligus HOS, Leonhard Hutagalung, S.S., dan menghadirkan dua narasumber, yakni Roni Antonius Sitanggang, S.Fil., serta Hekdi Jojada Sinaga, S.Fil., yang merupakan penyuluh agama Katolik.

Dalam pembukaan podcast, Leonhard Hutagalung mengajak umat memahami makna simbol abu yang dikenakan pada perayaan Rabu Abu sebagai awal Masa Prapaskah. “Kalau kita melihat tanda salib dari abu di dahi, itu bukan sekadar simbol. Kita ingin membedah, kenapa harus abu dan apa maknanya bagi kehidupan iman kita,” ujar Leonhard. Ia menambahkan bahwa melalui podcast ini, penyuluh agama Katolik berupaya memberikan pemahaman yang mendalam namun tetap mudah dipahami umat.

Roni Antonius Sitanggang menjelaskan bahwa awal Masa Prapaskah dimulai pada hari Rabu untuk melengkapi hitungan 40 hari puasa, meneladani Yesus Kristus. “Hari Minggu adalah hari perayaan Kebangkitan, bukan hari puasa. Karena itu, untuk genap 40 hari, Gereja memulainya sejak Rabu Abu. Abu sendiri adalah simbol pertobatan dan kerendahan hati. Saat kita mendengar kalimat ‘Engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu’, itu adalah pengingat agar kita rendah hati di hadapan Tuhan,” ungkapnya.

Sementara itu, Hekdi Jojada Sinaga menerangkan bahwa abu yang digunakan bukanlah abu sembarangan, melainkan berasal dari daun palma yang diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya. “Ada makna mendalam di sana. Daun palma yang dulu melambangkan kejayaan saat Yesus memasuki Yerusalem, kini menjadi abu. Ini mengingatkan kita bahwa kejayaan dunia itu sementara,” jelas Hekdi. Ia juga menekankan bahwa puasa dan pantang bukan sekadar menahan diri dari makanan tertentu, melainkan upaya mengosongkan diri dari kepentingan pribadi agar semakin peka terhadap sesama.

Menutup podcast, para narasumber mengajak umat menjadikan 40 hari Masa Prapaskah sebagai momentum pertobatan sejati. “Jadikan ini sebagai retret agung, bukan hanya fokus pada larangan, tetapi pada aksi nyata kasih kepada sesama,” pesan Roni. Senada dengan itu, Hekdi menambahkan, “Kurangi hal-hal yang tidak perlu, perbanyak doa, dan tingkatkan kepedulian sosial.” Melalui Podcast OPKM ini, Penyuluh Agama Katolik Kemenag Kota Medan berharap umat semakin memahami bahwa abu di dahi adalah tanda komitmen untuk terus memperbaiki diri dan hidup dalam kasih Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *