Medan (Humas) Penyuluh Agama Katolik Kota Medan menggelar kegiatan podcast bertajuk “Hasil SAGKI 2025: Rekomendasi untuk Umat Allah”, Jumat, (14/11/ 2025). Bincang-bincang bermakna ini berlangsung di Kantor Kementerian Agama Kota Medan bersama Hekdi Jojada Sinaga, S.Fil., Demaran Sigiro, S.Fil., dan Zetra Hail Saragih, S.Fil. Mereka membahas dinamika Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI V) yang digelar di Jakarta pada 3-7 November 2025.
Dalam podcast tersebut, para penyuluh menjelaskan makna SAGKI sebagai pertemuan lima tahunan Gereja Katolik Indonesia yang melibatkan para uskup, imam, biarawan-biarawati, dan umat awam untuk merefleksikan perjalanan Gereja sejauh ini dan menegaskan arah ke depan dalam kehidupan bermasyarakat dan menjemaat. Hasil SAGKI akan menentukan pola kebijakan dan pastoral Gereja Katolik Indonesia melalui Gereja Lokal di tiap keuskupan.
Tema SAGKI V adalah “Berjalan Bersama sebagai Peziarah Pengharapan: Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian”. Tema ini merupakan panggilan bersama agar umat beriman semakin menghidupi sinodalitas melalui persekutuan, partisipasi, dan misi. Para penyuluh juga menekankan pentingnya Gereja hadir sebagai pembawa harapan dan duta perdamaian di tengah situasi sosial yang kian kompleks, bahkan semakin rumit di masa depan.
Pembahasan berlanjut pada pemaknaan proses SAGKI yang berlangsung mulai dari tingkat keuskupan hingga nasional, yang disebut sebagai perjalanan spiritual bersama umat. Para penyuluh menyebut SAGKI bukan sekadar “rapat besar”, melainkan ruang mendengarkan Roh Kudus melalui pengalaman umat, termasuk yang kecil dan tersisih. Gereja yang semakin sinodal dijabarkan sebagai budaya baru hidup menggereja yang menekankan keterlibatan semua unsur umat Allah dalam dialog, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan misi.
Pada bagian akhir, podcast menyoroti empat kelompok yang menjadi fokus panggilan misioner SAGKI 2025, yaitu orang muda, perempuan, lanjut usia, dan saudara-saudari difabel. Penyuluh menyampaikan bahwa keempat kelompok ini memiliki peran penting dalam membangun Gereja yang lebih inklusif, penuh empati, dan relevan bagi umat. Acara ditutup dengan harapan bahwa semangat SAGKI V dapat menginspirasi seluruh paroki, komunitas, dan keluarga Katolik, khususnya di Kota Medan, agar hidup sebagai “peziarah pengharapan” yang misioner.

