Medan – Dalam rangka memperingati malam Nuzulul Qur’an, masyarakat yang memadati Masjid Al-Ikhsan Jl. PWS, Kecamatan Medan Petisah, mendapatkan pencerahan keilmuan tentang berbagai corak tafsir Al-Qur’an. Kegiatan tersebut menghadirkan H. Abdul Muthalib Daulay, Penyuluh Agama Islam dari KUA Kecamatan Medan Baru, sebagai penceramah pada Jumat, 13 Maret 2026.
Dalam ceramahnya, H. Abdul Muthalib Daulay menjelaskan bahwa para ulama tafsir sepanjang sejarah memiliki metode dan pendekatan yang beragam dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an. Perbedaan metode tersebut justru memperkaya khazanah keilmuan Islam dan membantu umat memahami pesan-pesan Al-Qur’an secara lebih luas dan mendalam.
Beliau kemudian memaparkan tiga tokoh besar dalam dunia tafsir yang dikenal sebagai pilar penting dalam sejarah penafsiran Al-Qur’an, yaitu Imam Ibnu Jarir al-Thabari, Imam al-Qurtubi, dan Imam al-Wahidi.
Menurutnya, Imam Ibnu Jarir al-Thabari (wafat 310 H) dikenal sebagai Syaikh al-Mufassirin atau guru para mufassir. Melalui karya monumentalnya Jami’ al-Bayan, al-Thabari menafsirkan Al-Qur’an dengan metode tafsir bi al-ma’tsur, yaitu penafsiran yang berlandaskan riwayat dari Rasulullah SAW, para sahabat, dan tabi’in. Ia juga sangat menekankan pentingnya ilmu bahasa Arab dan kekuatan sanad dalam menentukan makna ayat. Tidak hanya mengumpulkan riwayat, al-Thabari juga menyeleksi riwayat yang paling kuat untuk dijadikan rujukan.
Selanjutnya, Imam al-Qurtubi (wafat 671 H) melalui kitab tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an lebih menekankan pada aspek hukum dalam Al-Qur’an. Ia memandang Al-Qur’an sebagai sumber utama syariat dan pedoman praktis kehidupan. Walaupun bermazhab Maliki, al-Qurtubi dikenal objektif dan terbuka terhadap pendapat mazhab lain apabila dalilnya lebih kuat. Tafsirnya banyak membahas persoalan hukum, etika kehidupan, serta nilai-nilai penyucian jiwa secara moderat.
Sementara itu, Imam al-Wahidi (wafat 468 H) dikenal sebagai pakar dalam kajian Asbabun Nuzul atau sebab-sebab turunnya ayat. Dalam pandangannya, memahami Al-Qur’an secara tepat tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah dan peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat. Melalui karyanya Asbab al-Nuzul, ia menegaskan pentingnya mengetahui latar belakang turunnya ayat agar penafsiran tidak meluas tanpa dasar historis yang jelas.
H. Abdul Muthalib Daulay menegaskan bahwa memahami berbagai corak tafsir ini akan membantu umat Islam lebih bijak dalam memahami Al-Qur’an. “Perbedaan metode para mufassir bukanlah pertentangan, tetapi kekayaan intelektual Islam yang membantu kita memahami pesan Al-Qur’an secara lebih komprehensif,” ujarnya.
Acara peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Al-Ikhsan berlangsung dengan khidmat dan diikuti oleh jamaah yang antusias. Kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan keislaman serta memperkuat kecintaan umat terhadap Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

