PLO KUA Medan Sunggal Sampaikan Puasa Yang Tidak Menghasilkan Ketaqwaan di Masjid Agung Binjai

Medan (Humas) Penata Layanan Operasional (PLO) KUA Medan Sunggal, Dr. Iqbal Habibie Siregar, M.Pd.I, menyampaikan khutbah dan menjadi imam salat Jumat di Masjid Agung Binjai, yang terletak di JL. Soekarno Hatta (Lintas Medan-Binjai). pada Jum’at (13/3/2026).

Pada kesempatan tersebut Iqbal Habibi menyampaikan bahwa puasa seharusnya lebih dari sekadar menahan lapar dan haus. Menurutnya, puasa yang tidak disertai dengan peningkatan ketakwaan akan sia-sia. Ia menjelaskan, banyak umat yang hanya fokus pada aspek fisik dari puasa, yaitu sekadar menahan diri dari makanan dan minuman, tanpa memperhatikan aspek rohani dan akhlak. Padahal, tujuan utama dari puasa adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan meningkatkan ketakwaan, bukan sekadar menahan hawa nafsu semata.

Lebih lanjut, Iqbal Hàbibi menyebutkan, di antara penyebab utama puasa yang tidak membentuk pribadi yang taqwa adalah ketidakhati-hatian dalam menjaga diri dari perbuatan maksiat. Banyak orang yang tetap melakukan perbuatan buruk, seperti menggunjing, berbohong, atau berbuat dosa lainnya, meskipun mereka sedang menjalankan ibadah puasa. Puasa yang sejati adalah puasa yang menjaga setiap anggota tubuh dari perbuatan yang tidak baik. Tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga mata, lisan, telinga, dan hati agar tetap dalam kebaikan.

Kemudian, beliau juga menyoroti pentingnya pemahaman yang benar tentang puasa. Banyak yang berpuasa tetapi tidak mengerti makna sebenarnya dari ibadah ini. Tanpa pemahaman yang mendalam, seseorang bisa saja berpuasa hanya untuk mengikuti kebiasaan atau tradisi, bukan untuk mendapatkan ridha Allah. Iqbal Habibi menekankan bahwa puasa seharusnya dilakukan dengan penuh keikhlasan dan tujuan yang benar, yakni sebagai sarana untuk mencapai ketakwaan, bukan sekadar sebagai kewajiban semata.

Ibadah puasa yang sebenarnya harus dapat melahirkan pribadi yang lebih baik, yang selalu menjaga diri dari maksiat dan meningkatkan keikhlasan dalam beribadah. Jika puasa hanya dipandang sebagai beban fisik semata, maka ia tidak akan membawa perubahan pada diri seseorang. Oleh karena itu, umat Muslim harus benar-benar memahami esensi puasa yang sesungguhnya, yaitu sebagai sarana untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.(Paidi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *