Medan (Humas) — Masjid As-Syakirin yang terletak di Jalan Eka Suka XIV, Gedung Johor, Medan, dipenuhi jamaah dalam pelaksanaan salat tarawih berjamaah, Minggu (22/2/2026). Suasana khusyuk dan penuh kebersamaan terasa sejak awal hingga akhir ibadah. Kegiatan tersebut turut dihadiri Pembina Masjid As-Syakirin Dr. Asrin Nasution, MA, Ketua BKM Dr. H. Nasrullah, Sekretaris BKM Ahmad Faruq, serta para pengurus dan jamaah. Bertindak sebagai imam tarawih adalah Al Hafiz Rizky Maulana, sementara Bilal dipandu oleh Wafiq Habibi Rezeki Manurung.
Pada kesempatan tersebut, Penata Layanan Operasional KUA Kecamatan Medan Sunggal, Pan Suadi, MA, hadir sebagai penceramah dan menyampaikan tausiyah bertema keindahan ibadah. Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya memahami dan mengamalkan tiga kunci utama agar ibadah menjadi lebih bermakna dan bernilai di sisi Allah Swt.
Pan Suadi menjelaskan bahwa kunci pertama adalah yakin dalam beribadah. Ia mengajak jamaah untuk menanamkan keyakinan penuh kepada Allah Swt. sebagai satu-satunya tempat berharap. Menurutnya, keyakinan yang kuat akan menumbuhkan semangat dan kesungguhan dalam menjalankan setiap amal ibadah.
“Setiap ibadah harus dilandasi keyakinan yang kokoh bahwa Allah Swt. akan memberikan balasan terbaik. Keyakinan ini akan menjadikan ibadah lebih hidup dan bermakna,” ujarnya di hadapan jamaah. Ia juga mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 2 yang menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
Selanjutnya, ia menyampaikan pentingnya toma’un, yaitu harapan agar ibadah yang dilakukan diterima oleh Allah Swt. Harapan ini, menurutnya, akan mendorong seorang Muslim untuk terus memperbaiki kualitas ibadah serta menjaga niat yang tulus semata-mata karena Allah.
“Seorang hamba harus selalu berharap agar amalnya diterima oleh Allah. Sebagaimana hadis Rasulullah Saw., ‘Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.’ Dengan niat yang tulus dan harapan yang kuat, ibadah akan memberikan ketenangan dan kedamaian hati,” jelasnya.
Selain keyakinan dan harapan, Pan Suadi juga menekankan pentingnya khaufan, yaitu rasa takut jika ibadah yang dilakukan tidak diterima oleh Allah Swt. Ia menjelaskan bahwa rasa takut tersebut bukan untuk melemahkan semangat, melainkan sebagai pengingat agar setiap ibadah dilakukan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.
“Rasa takut ini akan membuat kita lebih berhati-hati dalam beribadah, karena kita sadar bahwa semua amal bergantung pada rahmat Allah Swt. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Mu’minun ayat 60 tentang orang-orang yang beramal dengan hati yang takut kepada Tuhannya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perpaduan antara keyakinan, harapan, dan rasa takut akan membentuk keseimbangan spiritual dalam diri seorang Muslim. Dengan ketiga kunci tersebut, ibadah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan membentuk pribadi yang lebih bertakwa.
“Ibadah yang dilakukan dengan hati yang yakin, penuh harapan, dan disertai rasa takut kepada Allah akan membawa kita pada keikhlasan dan kesempurnaan amal. Sebab, Allah tidak melihat rupa dan harta kita, tetapi melihat hati dan amal kita,” imbuhnya.
Kegiatan salat tarawih dan tausiyah tersebut ditutup dengan doa bersama. Jamaah berharap pesan yang disampaikan dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah, khususnya dalam menyambut dan menjalani bulan suci Ramadan dengan penuh keimanan dan ketakwaan.

