Medan (Humas) Tokoh-tokoh lintas agama se-Kota Medan menggelar rapat bersama dalam rangka menjaga dan memperkuat kerukunan umat beragama demi terwujudnya Kota Medan yang aman dan kondusif. Rapat tersebut dilaksanakan di Aula 1 Kantor Wali Kota Medan pada Selasa, 24 Februari 2026, dan dihadiri berbagai unsur tokoh agama, pengurus forum keagamaan, serta perwakilan pemerintah daerah.
Kegiatan ini merupakan wujud sinergi antara tokoh agama dan Pemerintah Kota Medan dalam menjaga stabilitas sosial serta memperkokoh persatuan di tengah keberagaman masyarakat Kota Medan. Dalam suasana penuh keakraban dan semangat kebersamaan, para peserta rapat membahas langkah-langkah strategis guna mencegah potensi konflik serta memperkuat komunikasi lintas agama.
Tampak hadir dalam kegiatan tersebut Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Baru, Damri Tambunan, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Medan (FKUB) Kota Medan. Kehadiran beliau bersama para tokoh agama lainnya menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga harmoni dan mempererat ukhuwah kebangsaan di Kota Medan.
Selain Pengurus FKUB Kota Medan, tampak hadir perwakilan dari Majelis-Majelis Agama Se-Kota Medan diantaranya Hasan Matsum (MUI), Erwin Tambunan (PGI-D), Ridwan (WALUBI), Suben Thiren (PHDI), perwakilan Keuskupan Agung, dan Alwin (MATAKIN).
Dalam rapat tersebut ditegaskan bahwa peran tokoh agama sangat strategis sebagai penyejuk dan perekat di tengah masyarakat. Para tokoh agama diminta untuk terus menyampaikan pesan-pesan kedamaian, toleransi, serta pentingnya menjaga persatuan dalam setiap ceramah, khotbah, dan pembinaan umat di lingkungan masing-masing. Hal ini dinilai penting, terutama dalam momentum bulan suci Ramadan yang menjadi bulan tarbiyah (pendidikan spiritual) bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan, kesabaran, serta kepedulian sosial.
Para peserta rapat sepakat bahwa menjaga kondusivitas kota bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aparat keamanan semata, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk para pemuka agama. Dengan komunikasi yang intensif dan kolaborasi yang baik, diharapkan setiap potensi gesekan dapat diredam sejak dini melalui pendekatan dialog dan musyawarah.
Rapat ini juga menegaskan komitmen bersama untuk mendukung motto Kota Medan, “Medan untuk Semua,” sebagai cerminan kota yang inklusif, menghargai keberagaman, serta menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Semangat kebersamaan yang terbangun dalam pertemuan tersebut diharapkan dapat menjadi energi positif dalam mewujudkan Kota Medan yang damai, rukun, dan harmonis bagi seluruh warganya tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, dan golongan.
Dengan adanya rapat koordinasi lintas agama ini, diharapkan suasana sejuk dan penuh persaudaraan terus terjaga, sehingga Kota Medan tetap menjadi rumah bersama yang aman dan nyaman untuk seluruh masyarakat.

