Medan (Humas) – Dalam rangka mempersiapkan umat Islam menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Majelis Ta’lim Jam’iyatul Muslimat menggelar kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Keagamaan di Masjid Muslimin, Kecamatan Medan Amplas, Jumat (13/02/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Syarto, Lc., M.A., Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Medan Amplas, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum besar untuk melakukan pembenahan diri secara menyeluruh, baik dari sisi iman, ilmu, amal, akhlak, hingga kesiapan mental dan jiwa.
“Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri secara total. Jika kita ingin Ramadan bernilai di sisi Allah SWT, maka persiapannya pun harus dilakukan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya di hadapan jamaah.
Dr. Syarto menyampaikan lima pesan utama dalam menyambut Ramadan.
Pertama, persiapan iman, yakni memperbaiki niat semata-mata karena Allah SWT, memperbanyak taubatan nasuha, serta membiasakan diri berdoa agar dipertemukan dengan Ramadan. Menurutnya, kebersihan hati dan ketulusan niat menjadi fondasi diterimanya amal ibadah.
Kedua, persiapan ilmu, yaitu membekali diri dengan pemahaman yang benar tentang fikih puasa, sunnah-sunnah Ramadan, serta tujuan (maqashid) disyariatkannya puasa. Ia menekankan bahwa ibadah tanpa ilmu dapat kehilangan arah, sementara ilmu akan menuntun ibadah menjadi lebih berkualitas.
Ketiga, persiapan amal, yang meliputi pengelolaan waktu, latihan ibadah sebelum Ramadan, serta membiasakan diri dengan Al-Qur’an. Ia mengingatkan agar Ramadan tidak dihabiskan dalam kesibukan duniawi semata, melainkan dijadikan bulan peningkatan ibadah dan kedekatan dengan Al-Qur’an.
Keempat, persiapan akhlak, yaitu memperbaiki perilaku pribadi, menjaga lisan dan sikap, mempererat hubungan sosial, serta meningkatkan kepedulian melalui sedekah. “Ramadan adalah bulan pembinaan karakter dan solidaritas sosial. Jangan sampai kita berpuasa, tetapi akhlak tidak berubah,” tegasnya.
Kelima, persiapan jiwa, yakni kesiapan mental dalam menyambut Ramadan dengan rasa suka cita dan penuh harapan. Ia mengingatkan bahwa tidak ada jaminan seseorang akan kembali bertemu Ramadan berikutnya, sehingga kesadaran tersebut hendaknya melahirkan kesungguhan dan keikhlasan dalam beribadah.
Kegiatan bimbingan berlangsung khidmat dan interaktif. Para jamaah Majelis Ta’lim Jam’iyatul Muslimat mengikuti materi dengan antusias, disertai sesi diskusi dan refleksi bersama. Melalui kegiatan ini, diharapkan jamaah mampu menyambut Ramadan dengan persiapan yang utuh serta menjadikannya sebagai sarana peningkatan iman, akhlak, dan kualitas kehidupan beragama.

