Medan (Humas) – Upaya meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat terus dilakukan oleh Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Denai melalui kegiatan Safari Subuh yang rutin dilaksanakan di berbagai masjid, musala, dan majelis taklim binaan. Kali ini, kegiatan berlangsung di Majelis Taklim Nurul Muhtadin, Musala Nurul Muhtadin, Jalan Medan Tenggara II Gang Pendidikan, Jumat (5/6/2026) ba’da Subuh.
Kegiatan yang dihadiri jamaah setempat tersebut berlangsung dalam suasana khidmat, hangat, dan penuh kekeluargaan. Acara diawali oleh protokol Rio Syahputra, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Badan Kemakmuran Musala (BKM) Nurul Muhtadin, Rusli.
Dalam sambutannya, Rusli menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas kehadiran penyuluh agama yang secara konsisten memberikan pembinaan dan pencerahan kepada masyarakat.
“Kami sangat bersyukur atas kehadiran penyuluh agama di tengah-tengah jamaah. Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk menambah wawasan keagamaan dan memperkuat keimanan masyarakat. Semoga ilmu yang disampaikan menjadi bekal bagi kita semua untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Ustaz Khoiruz Zaman, S.H.I., menyampaikan kajian tafsir Surat An-Nur ayat 24 yang berbunyi, “Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. An-Nur: 24).
Dalam pemaparannya, Ustaz Khoiruz menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan salah satu peristiwa besar pada Hari Kiamat, ketika manusia tidak lagi mampu mengingkari seluruh amal perbuatannya. Pada saat itu, anggota tubuh yang selama hidup digunakan untuk beraktivitas akan berbicara dan memberikan kesaksian secara jujur di hadapan Allah SWT.
Beliau menerangkan bahwa lidah akan menjadi saksi atas setiap ucapan yang pernah diucapkan, baik yang mengandung kebenaran maupun kebatilan. Tangan akan bersaksi atas seluruh perbuatan yang dilakukan, sementara kaki akan menceritakan setiap langkah yang pernah ditempuh, apakah menuju ketaatan atau justru mendekati kemaksiatan.
“Ketika manusia berusaha mengingkari kesalahannya, Allah SWT menampakkan bukti yang tidak dapat dibantah. Anggota tubuh yang dahulu digunakan untuk beramal akan menjadi saksi yang paling jujur atas seluruh perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa ayat tersebut mengandung pelajaran penting bagi setiap muslim agar senantiasa menjaga ucapan, perbuatan, dan perilaku sehari-hari. Sebab, tidak ada satu pun amal yang luput dari pengawasan Allah SWT dan seluruhnya akan dimintai pertanggungjawaban kelak.
“Setiap anggota tubuh merupakan amanah dari Allah SWT. Karena itu, kita harus menggunakannya untuk hal-hal yang diridhai-Nya. Kesadaran bahwa seluruh perbuatan akan dipertanggungjawabkan hendaknya menjadi motivasi untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbanyak amal saleh,” ungkapnya.
Mengutip penjelasan dalam Tafsir Ibnu Katsir, Ustaz Khoiruz menegaskan bahwa ayat ini merupakan peringatan keras bagi pelaku kemaksiatan sekaligus kabar gembira bagi orang-orang beriman yang senantiasa menjaga dirinya dari perbuatan dosa. Kesadaran akan adanya hisab dan kesaksian anggota tubuh di akhirat diharapkan mampu menumbuhkan rasa muraqabah, yakni merasa selalu diawasi oleh Allah SWT dalam setiap keadaan.
Penyampaian materi yang komunikatif, sederhana, dan menyentuh membuat para jamaah mengikuti kajian dengan penuh perhatian hingga akhir kegiatan. Antusiasme jamaah terlihat dari kesungguhan mereka menyimak setiap penjelasan yang disampaikan.
Kegiatan Safari Subuh kemudian ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan, keselamatan, kesehatan, dan keteguhan iman bagi seluruh jamaah. Suasana kebersamaan semakin terasa ketika kegiatan dilanjutkan dengan sarapan pagi bersama sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah antara penyuluh agama dan masyarakat binaan.
Melalui kegiatan Safari Subuh, KUA Kecamatan Medan Denai terus berkomitmen menghadirkan pembinaan keagamaan yang menyejukkan, mencerahkan, dan membangun kesadaran spiritual masyarakat. Diharapkan nilai-nilai Al-Qur’an tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pedoman dalam beribadah dan bermuamalah.

