PAI KUA Medan Denai Paparkan Tujuh Tanda Semangat Hijrah yang Belum Sempurna

Medan (Humas) – Upaya memperkuat pemahaman keagamaan dan ketahanan keluarga terus dilakukan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Denai melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (BIMLUH) Keluarga Sakinah. Kegiatan kali ini dilaksanakan di Majelis Ta’lim An-Nisa yang berlokasi di kediaman Roslaini Pane, Gang Raja Aceh, Jalan Seksama, Kecamatan Medan Denai, Kamis (18/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung selepas Salat Zuhur hingga menjelang Salat Asar berjamaah tersebut diikuti oleh jamaah majelis ta’lim dan masyarakat sekitar. Suasana penuh keakraban dan semangat menuntut ilmu tampak mewarnai jalannya kegiatan sejak awal hingga akhir acara.

Acara diawali dengan pembukaan oleh Diana selaku protokol, dilanjutkan dengan sambutan Ketua Majelis Ta’lim An-Nisa, Rusni Purba. Dalam sambutannya, Rusni menyampaikan apresiasi atas kehadiran Penyuluh Agama Islam KUA Medan Denai yang secara konsisten memberikan pembinaan keagamaan kepada masyarakat.

“Kami merasa bersyukur karena kegiatan seperti ini terus dilaksanakan. Materi yang disampaikan selalu relevan dengan kehidupan sehari-hari dan menjadi motivasi bagi jamaah untuk meningkatkan kualitas ibadah serta membangun keluarga yang lebih harmonis,” ujar Rusni.

Pada kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., menyampaikan materi bertema “Tujuh Tanda Semangat Hijrah yang Belum Sempurna.” Tema ini dipilih sebagai bentuk refleksi bagi umat Islam agar memahami bahwa hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perubahan penampilan atau simbol keagamaan, tetapi harus diwujudkan dalam perubahan sikap, perilaku, dan kualitas ketaatan kepada Allah SWT.

Dalam pemaparannya, Khoiruz Zaman menjelaskan bahwa masih banyak orang yang mengaku telah berhijrah, namun belum sepenuhnya meninggalkan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Menurutnya, hijrah yang hakiki harus tercermin dalam kesungguhan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ia menguraikan tujuh tanda semangat hijrah yang belum sempurna, yaitu mengaku takut kepada Allah tetapi masih mempertahankan kemaksiatan, berharap pahala Allah namun malas beribadah, memiliki niat berubah tetapi tidak pernah memulai, banyak berdoa tanpa diiringi ikhtiar, beristighfar tanpa penyesalan yang sungguh-sungguh, berbuat baik demi mendapatkan pujian manusia, serta beribadah bukan semata-mata karena Allah SWT.

“Hijrah bukan hanya berpindah dari yang haram menuju yang halal, tetapi juga berpindah dari kelalaian menuju kesadaran, dari riya menuju keikhlasan, dari angan-angan menuju tindakan nyata, dan dari dosa menuju taubat yang sebenar-benarnya,” jelas Khoiruz Zaman.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa semangat hijrah harus dibuktikan melalui perubahan yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan sampai hijrah hanya menjadi slogan atau identitas semata. Hijrah yang sesungguhnya adalah ketika seseorang terus berusaha memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan menghadirkan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat,” tambahnya.

Penyampaian materi berlangsung secara interaktif. Jamaah tampak antusias mengikuti pembahasan yang disampaikan, bahkan beberapa peserta mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman terkait tantangan menjaga istiqamah dalam berhijrah.

Salah seorang peserta, Zulinar, mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan menjadi pengingat bagi setiap muslim untuk senantiasa melakukan introspeksi diri.

“Materi yang disampaikan sangat menyentuh dan mudah dipahami. Kami diingatkan kembali bahwa hijrah adalah proses yang harus terus dijaga dan diperbaiki sepanjang hidup,” ungkapnya.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaiful Akhyar, S.H.I. Dalam doa tersebut dipanjatkan harapan agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk istiqamah dalam berhijrah, mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, serta memperoleh akhir kehidupan yang husnul khatimah.

Melalui kegiatan BIMLUH Keluarga Sakinah ini, KUA Kecamatan Medan Denai terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan layanan pembinaan keagamaan yang dekat dengan masyarakat. Kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemahaman agama, memperkuat ketahanan keluarga, serta mendorong terwujudnya kehidupan masyarakat yang religius, harmonis, dan berakhlak mulia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *