Medan (Humas) – Kementerian Agama Kota Medan melalui Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Denai terus memperkuat pembinaan keagamaan kepada masyarakat melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (BIMLUH) Keluarga Sakinah. Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama Majelis Taklim (MT) Amaliyah di Masjid Al-Jihad, Jalan Jermal VII Ujung, Komplek Graha Jermal, Kecamatan Medan Denai, Kamis (9/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai ba’da Zuhur hingga menjelang Ashar itu diikuti para jamaah Majelis Taklim dengan penuh antusias. Acara diawali oleh Nan Hayati Purba selaku protokol, dilanjutkan dengan sambutan Ketua MT Amaliyah, Dwi Putri Anggraini Nasution, penyampaian materi, sesi diskusi dan tanya jawab, serta ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaiful Akhyar, S.H.I.
Dalam sambutannya, Dwi Putri Anggraini Nasution menyampaikan apresiasi kepada Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai yang secara konsisten memberikan pembinaan keagamaan kepada masyarakat.
“Kami bersyukur kegiatan pembinaan seperti ini terus dilaksanakan. Materi yang disampaikan selalu relevan dengan kehidupan sehari-hari dan menjadi bekal bagi kami dalam membangun keluarga yang harmonis, menjaga keimanan, serta mendidik anak-anak sesuai dengan ajaran Islam,” ujarnya.
Materi penyuluhan disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., dengan tema “Tanda-Tanda Orang yang Terpedaya oleh Nafsu dan Setan.” Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa hawa nafsu merupakan bagian dari ujian kehidupan yang diberikan Allah SWT kepada setiap manusia. Nafsu bukan untuk dimusnahkan, melainkan dikendalikan dengan keimanan, ketakwaan, serta ketaatan kepada syariat Islam.
Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang mengikuti hawa nafsunya tanpa kendali, setan akan menghiasi perbuatan maksiat sehingga tampak indah dan menyenangkan. Kondisi inilah yang dapat menjauhkan seseorang dari jalan kebenaran apabila tidak diimbangi dengan penguatan iman dan ibadah.
Khoiruz Zaman menguraikan beberapa tanda seseorang mulai terpedaya oleh hawa nafsu dan godaan setan, di antaranya lalai dalam menjalankan ibadah, menganggap remeh dosa, memperturutkan keinginan yang bertentangan dengan syariat, mencintai dunia secara berlebihan, sulit menerima nasihat, gemar bermusuhan, memiliki sifat riya’ dan ujub, hati yang keras, menyepelekan kewajiban agama, serta menunda taubat.
“Godaan setan tidak selalu datang dalam bentuk yang tampak buruk. Sering kali kemaksiatan dihiasi sehingga terlihat menarik dan menyenangkan. Karena itu, setiap muslim harus senantiasa memperkuat iman, menjaga salat, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, dan beristigfar agar hati tetap terjaga dari tipu daya setan,” jelas Khoiruz Zaman.
Ia juga mengingatkan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membangun benteng spiritual agar setiap anggota keluarga mampu mengendalikan hawa nafsu dan menjaga diri dari berbagai pengaruh negatif.
“Keluarga yang sakinah lahir dari rumah yang dipenuhi ibadah, saling mengingatkan dalam kebaikan, serta menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup. Jika iman dalam keluarga kuat, insya Allah godaan hawa nafsu dan setan akan lebih mudah dihadapi,” tambahnya.
Materi yang disampaikan mendapat sambutan positif dari para jamaah. Salah seorang peserta, Siti Khadijah, mengaku memperoleh banyak pelajaran berharga dari kegiatan tersebut.
“Materinya sangat menyentuh dan menjadi pengingat bagi kami agar tidak mudah mengikuti hawa nafsu. Kami semakin memahami pentingnya menjaga salat, memperbanyak zikir, dan terus memperbaiki diri agar keluarga kami selalu berada dalam lindungan Allah SWT,” ungkapnya.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Syaiful Akhyar, S.H.I., memohon agar seluruh jamaah senantiasa diberikan kekuatan iman, keistiqamahan dalam beribadah, serta dijauhkan dari godaan hawa nafsu dan tipu daya setan.
Melalui kegiatan BIMLUH Keluarga Sakinah ini, Kementerian Agama Kota Medan melalui Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai terus berkomitmen meningkatkan literasi keagamaan masyarakat dan memperkuat ketahanan keluarga. Diharapkan pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan mampu melahirkan keluarga-keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, memiliki ketahanan spiritual yang kuat, serta mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan berlandaskan nilai-nilai ajaran Islam.

