PAI Medan Denai Ajak Jamaah Menjaga Hati agar Tetap Hidup dengan Iman

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Denai kembali melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) Keagamaan di Majelis Taklim IKSTA (Ikatan Keluarga Sedulur Tombo Ati), Minggu (12/7/2026). Kegiatan yang berlangsung ba’da Zuhur hingga menjelang Ashar tersebut dilaksanakan di Jalan Jermal III Gang Bangun Sari III No. 19, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, sebagai bagian dari upaya memperkuat pembinaan keagamaan dan ketahanan spiritual masyarakat.

Bimluh ini merupakan salah satu program rutin Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai dalam memberikan edukasi keagamaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, jamaah diajak untuk terus meningkatkan kualitas keimanan, memperbaiki akhlak, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui pembinaan yang berkesinambungan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Muhammad Ridha selaku protokol, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Majelis Taklim IKSTA, Syahrul Hadi. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas komitmen Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai yang secara konsisten menghadirkan pembinaan keagamaan di lingkungan masyarakat.

“Kami sangat bersyukur karena kegiatan seperti ini terus dilaksanakan. Materi yang disampaikan selalu memberikan manfaat, menambah ilmu, sekaligus menjadi pengingat bagi kami agar terus memperbaiki kualitas iman dan kehidupan sehari-hari. Semoga pembinaan ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., menyampaikan tausiah bertema “Tanda-Tanda Hati yang Hidup dan Hati yang Mati.” Tema tersebut dipilih sebagai pengingat bahwa hati merupakan pusat keimanan yang sangat menentukan perilaku, ibadah, dan akhlak seorang muslim.

Dalam pemaparannya, Khoiruz Zaman menjelaskan bahwa hati yang hidup memiliki ciri mudah menerima kebenaran, mencintai ibadah, takut melakukan dosa, mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah SWT, mencintai kebaikan, bersikap tawadhu’, serta senantiasa mengingat kehidupan akhirat. Sebaliknya, hati yang mati ditandai dengan berat menjalankan ibadah, tidak merasa bersalah ketika bermaksiat, keras terhadap nasihat, terlalu mencintai dunia, gemar melakukan kemaksiatan, sombong, dan lalai mengingat Allah SWT.

“Hati merupakan pusat kehidupan seorang mukmin. Jika hati dipenuhi iman, maka seluruh anggota tubuh akan terdorong melakukan kebaikan. Sebaliknya, apabila hati dibiarkan mati karena dosa dan kelalaian, maka kehidupan seseorang akan semakin jauh dari petunjuk Allah SWT,” jelas Khoiruz Zaman.

Ia mengingatkan bahwa dosa yang dilakukan secara terus-menerus tanpa disertai taubat akan mengeraskan hati. Oleh karena itu, umat Islam hendaknya senantiasa memperbanyak istighfar, menjaga salat lima waktu, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, memperbanyak zikir, menghadiri majelis ilmu, serta bergaul dengan orang-orang saleh agar hati tetap hidup dan istiqamah dalam ketaatan.

“Hati yang hidup akan melahirkan amal saleh dan akhlak yang mulia. Sebaliknya, hati yang mati akan menjauhkan seseorang dari petunjuk Allah SWT. Karena itu, marilah kita menjaga hati dengan iman, ilmu, zikir, taubat, dan senantiasa memohon kepada Allah agar diteguhkan di atas agama-Nya,” pesannya.

Khoiruz Zaman juga mengajak jamaah menjadikan setiap ujian kehidupan sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurutnya, hati yang bersih akan melahirkan ketenangan, kesabaran, dan sikap bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

“Jangan biarkan hati dipenuhi sifat iri, dengki, sombong, dan kebencian. Bersihkan hati dengan memperbanyak mengingat Allah, memaafkan sesama, dan memperbaiki hubungan dengan manusia. Insya Allah, hati yang bersih akan menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan dunia maupun akhirat,” tambahnya.

Kegiatan berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Jamaah tampak antusias mengikuti setiap rangkaian acara, menyimak materi yang disampaikan, serta aktif berdiskusi pada sesi tanya jawab. Suasana yang hangat dan komunikatif menjadikan pembinaan berlangsung lebih hidup dan memberikan ruang bagi jamaah untuk memperdalam pemahaman keagamaan.

Salah seorang jamaah, Murni Yati, mengaku bersyukur dapat mengikuti kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan sangat menyentuh hati serta menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.

“Kajian hari ini sangat menyentuh hati. Kami diingatkan bahwa menjaga hati jauh lebih penting daripada sekadar memperbaiki penampilan lahiriah. Semoga ilmu yang kami peroleh dapat kami amalkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.

Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaiful Akhyar, S.H.I., memohon kepada Allah SWT agar seluruh jamaah senantiasa diberikan hati yang bersih (qalbun salim), keimanan yang kokoh, kesehatan, keberkahan, serta kemudahan dalam mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.

Melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan ini, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai terus berkomitmen menjalankan tugas pembinaan umat dengan menghadirkan materi-materi keagamaan yang aktual, edukatif, dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Diharapkan, pembinaan yang dilaksanakan secara berkesinambungan ini mampu melahirkan pribadi dan keluarga yang beriman, berakhlak mulia, serta memiliki qalbun salim sebagai bekal meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *