Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Denai kembali melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) sebagai upaya meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat. Kegiatan tersebut digelar di Majelis Taklim (MT) Silaturrahim, kediaman Hj. Suryati, Jalan Rawa II No. 55, Kelurahan Tegal Sari Mandala III, Kecamatan Medan Denai, pada Rabu (15/7/2026), dan diikuti oleh puluhan jamaah dengan penuh antusias.
Kegiatan yang berlangsung usai salat Zuhur hingga pukul 15.30 WIB itu diawali dengan pembukaan oleh protokol, Latifah, dilanjutkan pembacaan susunan acara serta sambutan Ketua MT Silaturrahim, Erlis. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai yang secara konsisten hadir memberikan pembinaan kepada masyarakat melalui majelis taklim.
“Program bimbingan dan penyuluhan seperti ini sangat kami rasakan manfaatnya. Selain menambah ilmu agama, kegiatan ini juga menjadi bekal bagi jamaah dalam membangun keluarga yang harmonis, memperkuat akhlak, serta meningkatkan kualitas kehidupan beragama di lingkungan masyarakat,” ujar Erlis.
Materi Bimbingan dan Penyuluhan disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., S.Pd.I., dengan tema “Empat Tanda Kebahagiaan Menurut Sabda Nabi” yang dikutip dari Kitab Al-Jauhar al-Mawhub halaman 164. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati menurut Islam tidak diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, ataupun kemewahan hidup, melainkan dari keberkahan yang Allah SWT anugerahkan kepada hamba-Nya.
Khoiruz Zaman menjelaskan bahwa tanda pertama kebahagiaan adalah memiliki pasangan hidup yang saleh atau salehah. Menurutnya, pasangan yang senantiasa taat kepada Allah SWT, menjaga kehormatan diri dan keluarga, serta saling mengingatkan dalam kebaikan akan menjadi pondasi terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
“Tidak ada kebahagiaan rumah tangga tanpa keimanan. Ketika suami dan istri saling menguatkan dalam ibadah, saling menghormati, dan bersama-sama menjaga nilai-nilai agama, maka rumah tangga akan menjadi tempat yang penuh ketenangan dan keberkahan,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, tanda kedua adalah memiliki sahabat dan lingkungan yang saleh. Lingkungan yang baik akan mendorong seseorang semakin dekat kepada Allah SWT, rajin menghadiri majelis ilmu, serta saling menasihati dalam kebaikan. Sebaliknya, lingkungan yang buruk dapat melemahkan keimanan dan memengaruhi akhlak seseorang.
“Teman yang baik akan mengajak kepada kebaikan dan menjadi pengingat ketika kita lalai. Karena itu, memilih lingkungan yang positif merupakan bagian dari ikhtiar menjaga keimanan dan kualitas hidup seorang muslim,” jelas Khoiruz.
Tanda ketiga, lanjutnya, adalah dikaruniai anak-anak yang mencintai kebaikan. Anak yang saleh merupakan penyejuk hati orang tua sekaligus amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Oleh sebab itu, pendidikan agama sejak usia dini, keteladanan orang tua, kasih sayang, dan doa menjadi kunci dalam membentuk generasi yang beriman dan berakhlak mulia.
Adapun tanda keempat adalah Allah SWT memberikan kemudahan memperoleh rezeki di daerah tempat tinggalnya sendiri. Menurut Khoiruz, nikmat tersebut memungkinkan seseorang tetap dekat dengan keluarga, berbakti kepada kedua orang tua, aktif dalam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan, serta lebih optimal mendidik anak-anak dalam suasana yang penuh keberkahan.
“Rezeki yang berkah bukan hanya dilihat dari jumlahnya, tetapi dari manfaat, ketenangan hati, dan keberkahan yang dirasakan dalam kehidupan. Rezeki yang membawa seseorang semakin dekat kepada Allah SWT adalah rezeki yang sesungguhnya,” tuturnya.
Penyampaian materi berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif. Jamaah tampak antusias mengikuti kajian, bahkan aktif mengajukan berbagai pertanyaan seputar kehidupan rumah tangga, pendidikan anak, pentingnya memilih lingkungan yang baik, hingga cara memperoleh keberkahan rezeki. Diskusi yang berkembang semakin memperkaya pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan.
Beberapa jamaah, di antaranya Susi, Fuji, Nuri, dan Elvira, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Mereka mengaku mendapatkan wawasan baru yang sangat bermanfaat dan termotivasi untuk mengamalkan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
“Kajian ini memberikan banyak pelajaran bagi kami. Materinya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan mengingatkan kami bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang harta, tetapi tentang keberkahan, keluarga yang baik, lingkungan yang saleh, dan kedekatan kepada Allah SWT,” ungkap salah seorang jamaah.
Kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaiful Akhyar, S.H.I. Melalui pembinaan yang dilaksanakan secara berkelanjutan, KUA Kecamatan Medan Denai berharap masyarakat semakin memahami ajaran Islam secara utuh, mampu membangun keluarga yang harmonis, serta menjadikan kebahagiaan dunia dan akhirat sebagai tujuan hidup melalui ketaatan kepada Allah SWT dan pengamalan sunnah Rasulullah SAW.

