Medan (Humas) – Dalam semangat mewujudkan Kementerian Agama Berdampak, Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan, Hekdi Jojada Sinaga, kembali melaksanakan kegiatan katekese bagi Kelompok Katekumen Dewasa Paroki Santo Maria Yang Dikandung Tanpa Noda Katedral Medan, Minggu (26/07/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00 hingga 11.30 WIB di Gereja Katedral Medan, Jalan Pemuda No. 1, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, ini menjadi bagian dari pembinaan iman bagi umat yang sedang mempersiapkan diri menerima sakramen-sakramen inisiasi Gereja Katolik.
Katekese tersebut merupakan agenda pembinaan yang dilaksanakan secara berkesinambungan untuk membekali para katekumen dengan pemahaman yang benar mengenai ajaran Gereja sekaligus membentuk karakter Kristiani yang matang. Melalui proses pendampingan ini, para peserta diajak untuk semakin mengenal Kristus, menghayati iman secara utuh, serta mampu mewujudkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat.
Pada pertemuan kali ini, Hekdi mengangkat tema “Pertobatan Lebih Baik dari Persembahan”. Tema tersebut mengajak para peserta memahami bahwa Allah lebih berkenan pada hati yang sungguh-sungguh bertobat daripada sekadar mempersembahkan ritual atau persembahan lahiriah tanpa perubahan hidup. Pertobatan yang sejati diwujudkan melalui kesediaan untuk meninggalkan dosa, memperbaiki diri, mengampuni sesama, serta membangun hubungan yang semakin erat dengan Tuhan.
Dalam penyampaiannya, Hekdi menegaskan bahwa setiap orang dipanggil untuk mengalami pembaruan hidup secara terus-menerus. Menurutnya, pertobatan bukanlah peristiwa sesaat, melainkan proses sepanjang hidup yang diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Pertobatan sejati adalah persembahan yang paling berkenan di hadapan Tuhan. Ketika hati mau berubah dan hidup semakin setia pada kehendak-Nya, di situlah iman bertumbuh dan menjadi kesaksian bagi sesama,” ujar Hekdi Jojada Sinaga.
Ia menjelaskan bahwa persembahan kepada Tuhan akan memiliki makna apabila lahir dari hati yang tulus dan disertai kehidupan yang selaras dengan ajaran Kristus. Karena itu, setiap orang beriman diajak untuk tidak hanya mengutamakan simbol-simbol keagamaan, tetapi juga menghadirkan kasih, kejujuran, kerendahan hati, dan kepedulian kepada sesama dalam kehidupan nyata.
“Allah tidak melihat besar kecilnya persembahan yang kita berikan, melainkan ketulusan hati di balik persembahan itu. Hati yang mau bertobat, mau mengampuni, dan mau memperbaiki diri adalah persembahan yang paling indah di hadapan Tuhan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Hekdi mengajak para katekumen untuk menjadikan masa persiapan menerima sakramen sebagai kesempatan memperdalam relasi pribadi dengan Tuhan melalui doa, pembacaan Kitab Suci, dan keterlibatan aktif dalam kehidupan menggereja. Menurutnya, pembinaan iman tidak berhenti setelah menerima sakramen, tetapi harus terus dipelihara agar menghasilkan buah-buah kehidupan yang baik.
“Katekese bukan sekadar menambah pengetahuan tentang iman, tetapi menjadi proses pembentukan hati agar semakin menyerupai Kristus. Ketika iman dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam tindakan kasih, maka kehadiran kita akan membawa damai dan menjadi berkat bagi banyak orang,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan dan pembinaan keagamaan yang berkualitas bagi umat. Diharapkan para katekumen semakin mantap dalam perjalanan imannya, siap menerima sakramen-sakramen inisiasi, serta menjadi pribadi-pribadi Katolik yang dewasa dalam iman, teguh dalam pengharapan, dan setia mengamalkan kasih di tengah kehidupan bermasyarakat.

