( Motivasi Diri Dalam Menyempurnakan Separuh Agama)

Oleh Imam Pratomo, M.HI

Penyuluh Agama Islam ASN KUA Kecamatan Medan Kota, Staf Pengajar Ponpes Modern Darul Hikmah TPI, Peigiat Kajian Hukum Islam

            Tulisan ini berusaha memberikan kontribusi yang baik bagi sepasang suami dan isteri dalam menapaktilas kehidupan berumah tangga. Dalam pengamatan kita, hampir semua orang terkesan ketika menyaksikan resepsi pernikahan sepasang pengantin baru yang tampan dan cantik, saling menyuapi, saling membasuh kaki di pelaminan, saling memberikan ciuman kasih sayang, itu semuanya dimaksudkan agar suami dan isteri selalu dapat menjaga sikap dan hubungan yang harmonis. Dengan begitu akan terjalin hubungan yang selalu dipenuhi dengan keindahan dan romantisme. Namun dalam kenyataannya kerap terjadi antara sepasang suami dan isteri mulai menunjukkan sifat aslinya, egoisme, sadis, otoriter, tekanan sana dan sini dari salahsatu pasangan suami dan isteri manakala Honey Moon telah berakhir atau juga ketika pernikahan memasuki usia 5 tahun pertama, ini masa-masa sulit (rawan) bagi sepasang suami isteri.

            Keadaan tersebut sangat berlawanan dengan awal mula mereka melangsungkan pernikahan dalam pelaminan, itulah kenyataan hidup yang tak selalu indah seperti dalam suasana pesta pernikahan. Manifestasi dalam sebuah resepsi pernikahan adalah hanya sebuah lambang- lambangnya saja, sementara dalam kehidupan sehari-hari harus realistis, bila dalam keadaan strees seperti seorang suami pulang kerja tanpa membawa gaji bulanan, lantas isteripun tidak terima dan memaki-maki suaminya, maka tak ayal ada sebuah syair lagu yaitu  “ Ada uang abangku sayang, tak ada uang abang ku tendang”, ini realita yang terjadi dan masing-masing menunjukkan sifat negatifnya bagi sepasang suami dan isteri yaitu membentak-bentak, menyalahkan dan bersikapkasar padahal dalam Alquran sudah dijelaskan aturan pendidikan bagi suami dan isteri yang nusyuz yaitu menasehatinya, memukul dengan cara mendidik, pisah ranjang dan panggil hakim antara keduanya.

            Untuk terwujudnya kembali keharmonisan dalam kehidupan berumah tangga, maka penulis berusaha memberikan tips yang terbaik yaitu Pertama, Menghangatkan Kembali Cinta, cinta sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia, sehingga bisa merubah segala-galanya, jarak yang jauh dapat menjadi sangat dekat, semua rintangan berat  dapat menjadi ringan, hidup yang susah dapat menyenangkan, itulah yang dinamakan cinta. Pasangan suami isteri tentunya pernah mengalami yang namanya cinta, cinta yang berkobar-kobar didalam dada, pada fase inilah hidup terasa indah karena rasa cinta dalam diri pasangan suami dan isteri masih tetap stabil dan bahkan bertambah terus. Seharusnya keadaan ini haruslah tetap dipelihara sampai dalam kehidupan pernikahan atau sampai keanak cucu, artinya adalah bahwa jika suami dan isteri tidak lagi memahami fungsinya masing-masing maka kenanglah kembali masa-masa indah ketika taarufan.

            Kedua, Menghormati Nilai Pernikahan, nilai-nilai luhur dalam sebuah pernikahan adalah sesuatu yang perlu dihormati dan dijaga serta dihayati oleh sepasang suami dan isteri, sehingga nilai-nilai itu dapat menjadi pedoman yang dapat menuntun pasangan suami dan isteri untuk mencapai kehidupan yang bahagia, nilai-nilai luhur ini bila dijabarkan akan membentuk sebuah rumusan yang bisa digunakan sebagai petunjuk untuk mengarungi kehidupan berumah tangga. Misalnya setelah menjadi suami isteri haruslah mencintai, saling setia, saling melindungi, dan mau berbagi suka dan duka, kalau ini semua sudah mulai hilang maka menurut hemat penulis langkah-langkahnya adalah melakukan intropeksi diri (muhasabah) antara suami isteri, lanjutnya lakukanlah perbaikan jika ada kesalahan. Selain itu, janganlah merasa gengsi untuk mengakui kesalahan yang kita perbuat atau janganlah menolak untuk diinggatkan oleh isteri ataupun suami “ saling ingat-mengingatkanlah, sesungguhnya mengingatkan itu dapat bermanfaat bagi kehidupan orang-orang mukmin”. (Alquran). Lakukanlah cara ini jika kita mengingingkan kehidupan rumah tangga yang harmonis.

            Ketiga, Saling Memahami, dalam kehidupan rumah tangga antara suami dan isteri, mereka mempunyai posisi dan kedudukan yang seimbang. Artinya adalah tidak ada sikap yang lebih tinggi dari satu sama lain. Jika suami mereasa lebih tinggi dan menunjukkan sikap yang otoriter terhadap isterinya, maka tak ayal suami tersebut mejadikan atau memperlakukan isterinya itu layaknya seperti seorang budak/ seorang buruh kasar. Isteri akan merasa diremehkan dan direndahkan, padahal seharusnya isteri harus dijadikan sebagai mitra kerja kita dalam menghadapi problematika kehidupan rumah tangga. Ini harus lah ada dalam kehidupan rumah tangga antara sepasang suami isteri yaitu saling memahami satu sama lain sehingga keluarga itu menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah dunia dan di akhirat.

Penutup

            Rumah tanggah yang harmonis adalah surga bagi sepasang suami dan isteri, dalam Hadist dikatakan “ Baiti Jannati/ Rumahku Surgaku” Artinya bahwa jadikanlah rumah tangga kita menjadi nyaman, aman, dan damai menuju keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah sebagaimana yang kita harapkan dengan menjalani aturan Allah sesuai Alquran dan Sunnah, taat akan perintahnya, dan memperhatikan tips-tips yang telah penulis paparkan diatas, semoga kita semua dapat dan menuju keluarga yang SAMARA. Amiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *