Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal Ajak Korban NAPZA Optimis Menjalani Proses Rehabilitasi

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Sunggal, Paidi, S.Ag, memberikan pendampingan dan bimbingan kerohanian kepada pasien rehabilitasi korban NAPZA di Panti Rehabilitasi Kiki Alam Jaya, Jalan Bunga Seroja Raya, Kota Medan, pada Senin (3/8/2026). Kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai ketauhidan, mengajak peserta lebih mengenal Allah SWT, serta memberikan motivasi agar memiliki semangat untuk sembuh dari ketergantungan NAPZA. Dalam kegiatan tersebut, Paidi didampingi oleh Penyuluh Agama Islam KUA Medan Selayang, Heri Fitrian.M.A.

Bimbingan dilaksanakan secara langsung di ruang pasien yang beragama Islam agar materi yang disampaikan dapat diterima dengan lebih personal. Melalui pendekatan spiritual dan dialog, para penyuluh memberikan penguatan mental, membangkitkan harapan, serta mengajak para pasien untuk menjadikan proses rehabilitasi sebagai momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

Dalam penyampaiannya, Paidi menegaskan bahwa langkah awal menuju kesembuhan adalah mengenal diri sendiri dan memiliki niat yang kuat untuk berubah. Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi sangat ditentukan oleh tekad dari dalam diri masing-masing. “Untuk sembuh dari ketergantungan NAPZA, langkah pertama adalah mengenal diri sendiri. Jika kita sudah mengenal siapa diri kita, maka kita akan mampu berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Tanamkan niat yang kuat untuk sembuh dan berhijrah ke jalan Allah SWT, karena kesembuhan itu bermula dari kemauan diri sendiri,” ujar Paidi.

Paidi juga menjelaskan tentang tiga golongan manusia dalam perjalanan hidupnya. Golongan pertama adalah orang yang sejak lahir hingga akhir hayatnya senantiasa berada dalam kebaikan. Golongan kedua adalah mereka yang memulai hidup dengan baik, tetapi mengakhiri kehidupannya dengan keburukan sehingga termasuk orang-orang yang merugi. Sementara golongan ketiga adalah mereka yang pernah hidup dalam kesalahan, namun memperoleh hidayah sebelum wafat sehingga menutup hidupnya dengan amal saleh. Ia mencontohkan kisah Sahabat Nabi, Umar bin Khattab, sebagai teladan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bertobat dan berubah menjadi lebih baik.

Sementara itu, Heri Fitrian mengajak seluruh peserta rehabilitasi agar tidak pernah lelah berbuat kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, setiap amal baik akan membawa manfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang-orang di sekitar. “Jadilah manusia yang tidak pernah bosan berbuat kebaikan, baik untuk diri sendiri, keluarga, orang tua, maupun masyarakat. Teruslah memperbaiki diri, karena setiap langkah menuju kebaikan akan menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna,” tutur Heri Fitrian.

Melalui kegiatan bimbingan kerohanian ini, KUA Kecamatan Medan Sunggal terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung proses rehabilitasi korban NAPZA melalui pendekatan keagamaan. Diharapkan nilai-nilai keimanan, optimisme, dan semangat hijrah yang ditanamkan dapat menjadi bekal bagi para pasien untuk bangkit dari ketergantungan, menjalani rehabilitasi dengan sungguh-sungguh, serta kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang sehat, mandiri, dan bermanfaat.(Paidi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *