Medan (Humas) — Kementerian Agama Kota Medan melalui Penyuluh Agama Islam terus memperkuat pembinaan keagamaan masyarakat melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan (Bimluh). Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh H. Tamrin Butar Butar, S.Ag., S.Pd.I., di Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara, Jalan Sampul, Medan, Kamis (20/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Tamrin menyampaikan materi tentang cara belajar menghadirkan shalat yang khusyuk sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman sekaligus kualitas pengamalan ibadah. Pembinaan ini menjadi ruang bagi peserta untuk merefleksikan kembali pelaksanaan shalat dan memahami pentingnya menghadirkan hati dalam setiap ibadah yang dilakukan.
Dalam penyampaian materinya, Tamrin menjelaskan bahwa shalat merupakan ibadah utama yang tidak hanya membutuhkan kesempurnaan gerakan dan bacaan, tetapi juga kesadaran serta penghayatan. Menurutnya, seseorang perlu memahami bahwa ketika melaksanakan shalat, dirinya sedang menghadap dan berkomunikasi dengan Allah SWT sehingga perhatian tidak semestinya mudah teralihkan oleh berbagai hal. “Shalat yang khusyuk bukan hanya tentang gerakan dan bacaan, tetapi bagaimana kita menghadirkan hati dan menyadari bahwa kita sedang menghadap Allah SWT,” ujar Tamrin. Ia mengajak peserta untuk menjadikan shalat sebagai momentum untuk sejenak meninggalkan kesibukan dunia dan memusatkan perhatian kepada Allah SWT.
Tamrin kemudian menjelaskan sejumlah hal yang dapat dilakukan untuk membantu melatih kekhusyukan dalam shalat. Persiapan sebelum shalat, menjaga kebersihan dan ketenangan, memahami arti bacaan, serta berusaha menghindari hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi menjadi beberapa langkah yang perlu diperhatikan. Menurutnya, memahami makna bacaan shalat dapat membantu seseorang lebih menghayati setiap kalimat yang diucapkan sehingga ibadah tidak dilakukan sekadar sebagai rutinitas. “Kita perlu mempersiapkan diri sebelum shalat, memahami bacaan yang kita ucapkan, dan berusaha menenangkan hati agar ibadah dapat dilakukan dengan lebih khusyuk,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kekhusyukan bukan sesuatu yang selalu dapat diperoleh secara instan, melainkan perlu dilatih secara bertahap melalui kesungguhan dan kebiasaan. Ketika pikiran mulai teralihkan saat shalat, seseorang dapat kembali mengarahkan perhatian kepada bacaan dan menyadari kembali bahwa dirinya sedang menghadap Allah SWT. Tamrin juga mengingatkan peserta agar tidak mudah menyerah ketika belum mampu mencapai kekhusyukan sebagaimana yang diharapkan. “Khusyuk itu perlu dilatih. Jangan merasa gagal ketika pikiran sesekali teralihkan, tetapi terus berusaha mengembalikan hati dan pikiran kepada Allah SWT setiap kali kita menyadarinya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Tamrin mengajak peserta untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin sebelum menunaikan shalat. Menurutnya, seseorang dapat meluangkan waktu sejenak sebelum takbiratul ihram untuk menenangkan pikiran, meninggalkan urusan yang sedang dipikirkan, serta mengingat kebesaran Allah SWT. Kebiasaan tersebut dapat membantu membangun kesiapan mental sehingga shalat tidak dilakukan secara terburu-buru. “Sebelum shalat, kita perlu memberikan kesempatan kepada hati untuk tenang. Tinggalkan sejenak urusan dunia dan tanamkan kesadaran bahwa beberapa menit ke depan kita sedang berdiri di hadapan Allah SWT,” ungkap Tamrin.
Kegiatan Bimluh tersebut juga menjadi ruang bagi peserta untuk memahami bahwa kualitas shalat memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari. Tamrin menyampaikan bahwa shalat yang dilakukan dengan kesadaran dan penghayatan diharapkan dapat membentuk pribadi yang lebih disiplin, tenang, serta mampu mengendalikan diri dalam menghadapi berbagai persoalan. Nilai-nilai yang diperoleh dalam ibadah hendaknya tidak berhenti ketika salam diucapkan, tetapi diterapkan melalui perilaku yang baik dalam keluarga, lingkungan kerja, dan kehidupan bermasyarakat. “Mari kita jadikan shalat bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kehidupan kita,” ujar Tamrin.
Ia juga mengajak peserta untuk menjadikan shalat sebagai sarana evaluasi diri dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Menurutnya, seseorang yang berusaha memperbaiki kualitas shalat secara konsisten akan semakin terdorong untuk memperbaiki berbagai aspek kehidupannya. “Semoga materi yang kita bahas hari ini dapat diamalkan dan menjadi motivasi untuk terus memperbaiki kualitas shalat dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya memahami bagaimana shalat yang khusyuk, tetapi mari kita berusaha mempraktikkannya sedikit demi sedikit,” ungkap Tamrin.
Kegiatan Bimluh di Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara tersebut berlangsung dengan baik dan diikuti peserta dengan penuh perhatian. Pembahasan mengenai shalat khusyuk menjadi ruang refleksi bagi peserta untuk kembali memperhatikan kualitas ibadah, mulai dari persiapan sebelum shalat, pemahaman bacaan, hingga upaya menghadirkan hati ketika berhadapan dengan Allah SWT. Melalui pembinaan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat, Penyuluh Agama Kementerian Agama Kota Medan terus berupaya menghadirkan materi keagamaan yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi peserta untuk terus memperbaiki kualitas ibadah dan menjadikan shalat sebagai sumber ketenangan, kedisiplinan, serta kekuatan dalam menjalani kehidupan.

