Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan Tekankan Pentingnya Mengamalkan Lima Ciri Umat Rasulullah

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan, AlHuda, S.Sos.I., memberikan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) kepada jamaah Majelis Taklim (MT) Al-Ikhlash di Jalan Pelajar, Kelurahan Binjai, Medan, Senin (31/08/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Lima Ciri Umat Nabi Muhammad SAW” yang membahas sejumlah nilai yang perlu dimiliki dan diamalkan oleh umat Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan tersebut, jamaah diajak untuk tidak hanya mengenal keteladanan Rasulullah, tetapi juga melakukan refleksi terhadap sejauh mana nilai-nilai tersebut telah diterapkan dalam kehidupan.

Dalam penyampaiannya, AlHuda menjelaskan lima ciri umat Nabi Muhammad SAW yang menjadi pokok pembahasan, yaitu tegas terhadap orang kafir, berkasih sayang kepada sesama, mantap dalam beribadah, senantiasa mencari rida Allah SWT, serta menghadirkan pengaruh positif dari ibadah. Menurutnya, kelima ciri tersebut merupakan nilai yang perlu diwujudkan melalui sikap dan perilaku, bukan sekadar dipahami sebagai pengetahuan keagamaan. Karena itu, seorang Muslim perlu melakukan evaluasi diri agar ajaran yang diperoleh dalam pengajian dapat benar-benar memberikan perubahan dalam kehidupan.

AlHuda menjelaskan bahwa ketegasan terhadap orang kafir perlu dipahami sebagai keteguhan seorang Muslim dalam memegang prinsip dan ajaran agamanya. Keteguhan tersebut tidak berarti menghilangkan sikap menghormati orang lain, terlebih dalam kehidupan masyarakat yang memiliki latar belakang agama dan budaya yang beragam. “Kita harus teguh dalam memegang ajaran agama dan memiliki prinsip yang kuat. Namun, keteguhan itu harus berjalan bersama sikap bijaksana, menghormati sesama, serta tetap menjaga kerukunan di tengah masyarakat,” ujar AlHuda.

Menurutnya, ciri berikutnya adalah kasih sayang kepada sesama yang harus menjadi bagian dari kepribadian seorang Muslim. Kasih sayang dapat diwujudkan melalui kepedulian, sikap saling membantu, menjaga lisan, menghormati orang lain, dan tidak mudah menyakiti sesama. Nilai tersebut penting karena keberagamaan seseorang tidak hanya terlihat dari hubungan vertikal kepada Allah SWT, tetapi juga tercermin dari bagaimana ia membangun hubungan sosial dengan orang-orang di sekitarnya.

Selain keteguhan dan kasih sayang, AlHuda menekankan pentingnya meningkatkan kualitas ibadah dan senantiasa mengharapkan rida Allah SWT. Ibadah yang dilakukan secara istiqamah seharusnya memberikan pengaruh terhadap pembentukan akhlak dan perilaku seseorang. “Jangan sampai ibadah hanya menjadi rutinitas yang kita lakukan berulang-ulang, tetapi tidak memberikan perubahan dalam diri. Ibadah yang baik seharusnya membuat kita semakin dekat kepada Allah, semakin baik akhlaknya, dan semakin bermanfaat bagi orang lain,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa mencari rida Allah SWT harus menjadi orientasi dalam setiap amal yang dilakukan. Seorang Muslim hendaknya tidak hanya mengejar penilaian manusia, tetapi lebih mengutamakan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah SWT. Menurutnya, ketika seseorang mampu mengarahkan ibadah dan aktivitas kehidupan kepada rida Allah, maka akan tumbuh sikap rendah hati, tidak mudah sombong, serta lebih ikhlas dalam berbuat kebaikan.

AlHuda juga mengajak jamaah untuk melihat keberhasilan ibadah dari dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Menurutnya, seseorang yang rajin beribadah seharusnya semakin mampu mengendalikan diri, menjaga ucapan, menjauhi perbuatan buruk, serta menghadirkan manfaat bagi keluarga dan masyarakat. “Ukuran keberhasilan ibadah bukan hanya seberapa banyak aktivitas ibadah yang kita lakukan, tetapi juga apakah ibadah itu membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Kalau setelah beribadah kita semakin mudah menyakiti orang lain atau melakukan keburukan, maka kita perlu kembali melakukan evaluasi terhadap kualitas ibadah kita,” ungkapnya.

Sebagai Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan, AlHuda berharap kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan dapat menjadi sarana bagi jamaah untuk terus meningkatkan pemahaman sekaligus pengamalan ajaran Islam. Ia mengajak jamaah menjadikan setiap kegiatan pengajian sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT serta sesama manusia. “Mari kita jadikan lima ciri umat Rasulullah ini sebagai bahan evaluasi diri. Tidak harus langsung sempurna, tetapi kita mulai dari hal-hal sederhana dan terus berusaha istiqamah agar nilai-nilai tersebut benar-benar menjadi bagian dari kepribadian kita,” pesannya.

Kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan di MT Al-Ikhlash berlangsung dengan khidmat dan mendapat perhatian dari para jamaah. Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memohon keberkahan agar ilmu yang diperoleh dapat diamalkan. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan salat Ashar berjamaah sebagai bagian dari penguatan praktik keagamaan jamaah.

Melalui kegiatan tersebut, Kementerian Agama Kota Medan melalui Penyuluh Agama Islam terus mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas keberagamaan yang tercermin dalam kehidupan nyata. Pembinaan keagamaan diharapkan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi mampu melahirkan perubahan sikap, penguatan akhlak, dan peningkatan kepedulian sosial. Dengan mengamalkan keteladanan Rasulullah SAW, jamaah diharapkan mampu menjadi pribadi yang teguh dalam beragama, penuh kasih sayang, istiqamah dalam beribadah, ikhlas mencari rida Allah SWT, serta senantiasa menghadirkan manfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *