Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kecamatan Medan Denai kembali melaksanakan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) keagamaan bersama jamaah Majelis Taklim (MT) Al-Ikhwan di Masjid Al-Ikhlas, Jalan Raya Menteng Gang Benteng, Medan, Senin (31/08/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema “3 Hal yang Sebaiknya Kita Rahasiakan” yang dinilai relevan dengan kehidupan masyarakat di tengah perkembangan teknologi informasi dan penggunaan media sosial. Melalui materi tersebut, jamaah diajak untuk lebih bijak dalam menjaga ucapan, kehormatan diri dan orang lain, privasi keluarga, serta berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan diikuti jamaah MT Al-Ikhwan dengan antusias. Acara dipandu oleh Yani Sulastri selaku protokol, sedangkan Rumi Rumini menjadi tuan rumah kegiatan. Ketua MT Al-Ikhwan, Tissa Heni, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Bimluh dan mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan kegiatan tersebut sebagai sarana meningkatkan pengetahuan agama sekaligus memperbaiki pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Tausyiah disampaikan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I. Ia menjelaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu kepada orang lain, sebab tidak semua hal yang diketahui, dialami, maupun dimiliki seseorang layak diketahui oleh publik. Menurutnya, kemampuan menjaga rahasia merupakan bagian dari akhlak dan bentuk tanggung jawab seorang Muslim dalam menjaga kehormatan diri, keluarga, dan sesama.
“Di zaman sekarang, kita sangat mudah membagikan apa pun melalui media sosial. Namun, tidak semua yang kita ketahui harus diceritakan, tidak semua yang kita alami harus dipublikasikan, dan tidak semua yang kita miliki harus diperlihatkan. Seorang Muslim perlu memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang pantas disampaikan dan mana yang sebaiknya dijaga,” ujar Khoiruz Zaman.
Ia kemudian menjelaskan tiga hal yang sebaiknya dijaga dan tidak diumbar kepada orang lain. Pertama, aib diri sendiri dan aib orang lain. Menurutnya, Islam mengajarkan umat untuk menutup aib, bukan menjadikannya bahan pembicaraan atau konsumsi publik, karena menyebarkan aib dapat merusak kehormatan seseorang dan menimbulkan persoalan yang lebih besar.
Khoiruz Zaman mengingatkan jamaah tentang firman Allah SWT dalam QS. An-Nur ayat 19 yang memberikan peringatan terhadap orang-orang yang senang menyebarkan perbuatan keji di tengah masyarakat. Ia juga mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa siapa yang menutupi aib seorang Muslim, Allah SWT akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. “Kalau kita mengetahui kekurangan atau kesalahan seseorang, jangan menjadikannya sebagai bahan cerita, status media sosial, ataupun bahan untuk mempermalukannya. Menutup aib bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi menjaga kehormatan sambil tetap mengarahkan kepada perbaikan,” jelasnya.
Hal kedua yang disampaikan adalah menjaga privasi rumah tangga dan pasangan. Khoiruz Zaman mengingatkan bahwa kehidupan suami istri memiliki ruang pribadi yang harus dihormati dan tidak selayaknya menjadi bahan cerita kepada orang lain. Termasuk di dalamnya persoalan rumah tangga, percakapan pribadi, konflik keluarga, maupun hal-hal yang sangat bersifat pribadi antara suami dan istri.
“Pasangan adalah pakaian bagi pasangannya. Pakaian berfungsi menutup dan melindungi, sehingga kehidupan rumah tangga juga seharusnya menjadi ruang untuk saling menjaga. Jangan sampai masalah keluarga yang seharusnya diselesaikan dengan komunikasi justru diumbar kepada orang lain dan akhirnya menjadi konsumsi publik,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa rumah tangga yang sehat bukan berarti rumah tangga yang tidak pernah menghadapi masalah. Setiap keluarga tentu memiliki perbedaan pendapat dan tantangan masing-masing, tetapi persoalan tersebut perlu diselesaikan dengan cara yang bijaksana dan tidak mempermalukan pasangan. Menurutnya, menjaga rahasia rumah tangga merupakan salah satu bentuk menjaga kehormatan sekaligus mempertahankan kepercayaan antara suami dan istri.
Hal ketiga yang menjadi perhatian adalah menjaga informasi mengenai harta dan simpanan yang dimiliki. Khoiruz Zaman menjelaskan bahwa bersyukur atas nikmat Allah SWT merupakan kewajiban, tetapi rasa syukur tidak harus diwujudkan dengan mempertontonkan seluruh kondisi keuangan, aset, tabungan, atau penghasilan kepada publik.
“Tidak semua yang kita miliki harus diperlihatkan. Harta adalah nikmat sekaligus amanah dan ujian. Karena itu, semakin banyak nikmat yang kita terima, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk mengelolanya dengan baik, bersyukur, dan tetap berhati-hati. Hindari kebiasaan mempertontonkan kekayaan hanya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain,” pesannya.
Menurutnya, kehati-hatian dalam menjaga informasi mengenai harta juga berkaitan dengan keamanan dan ketenangan hidup. Penggunaan media sosial yang tidak bijak dapat membuat seseorang terlalu terbuka mengenai kondisi pribadi dan keluarga. Karena itu, jamaah diingatkan agar mempertimbangkan manfaat dan mudarat sebelum mengunggah sesuatu ke ruang publik.
Menutup tausyiahnya, Khoiruz Zaman kembali mengajak jamaah untuk membangun kebiasaan menjaga lisan dan mengendalikan diri sebelum berbicara maupun membagikan sesuatu. “Tidak semua yang benar harus diceritakan, tidak semua yang kita miliki harus diperlihatkan, dan tidak semua yang kita alami harus dipublikasikan. Kadang-kadang diam dan menjaga rahasia justru merupakan bentuk kemuliaan akhlak dan cara kita menjaga diri dari persoalan,” tegasnya.
Salah seorang jamaah, Liza Marlina, mengaku senang mengikuti kegiatan Bimluh tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, terutama dalam menghadapi perkembangan media sosial yang membuat orang semakin mudah membagikan berbagai hal kepada publik. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan karena memberikan pengetahuan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat.
Kegiatan Bimluh kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaiful Akhyar. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib dan penuh kekhidmatan, serta mendapat respons positif dari jamaah. Melalui kegiatan tersebut, PAI KUA Kecamatan Medan Denai terus berupaya menghadirkan pembinaan keagamaan yang kontekstual dan menyentuh persoalan kehidupan masyarakat.
Bimluh bersama MT Al-Ikhwan diharapkan dapat mendorong jamaah untuk semakin bijak dalam menjaga lisan, kehormatan diri dan orang lain, privasi keluarga, serta berbagai nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan. Pemahaman tersebut menjadi penting agar nilai-nilai agama tidak hanya dipelajari dalam forum pengajian, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam berkomunikasi dan bermedia sosial secara santun, bertanggung jawab, dan berakhlak.

